Sudah bertahun-tahun saya membayangkan momen ini yaitu berdiri di bawah pohon sakura di Tokyo, menyaksikan kelopaknya jatuh satu-satu ditiup angin musim semi. Setiap kali membuka Instagram dan melihat foto orang lain berlibur di Jepang saat sakura mekar, rasanya ada yang mengganjal di dada, semacam rindu pada sesuatu yang belum pernah saya alami sendiri. Jadi ketika akhirnya tiket pesawat di tangan dan tanggal keberangkatan sudah pas dengan prediksi mekarnya sakura, rasanya seperti mimpi yang perlahan jadi kenyataan.
Hari pertama tiba di Tokyo, saya sudah tidak sabar. Setelah menaruh koper di hostel, saya langsung jalan kaki menyusuri Sumida River, area favorit saya karena pohon-pohon sakuranya berjejer rapi dengan latar Tokyo Sky Tree di kejauhan. Dari pagi sampai sore saya berpindah dari satu spot ke spot lain, naik turun subway, mengandalkan maps di smartphone untuk mencari jalan, sesekali membuka itinerary yang sudah saya susun jauh-jauh hari, lalu berhenti sejenak untuk memotret setiap sudut yang menurut saya sayang untuk dilewatkan.
Semakin banyak tempat yang saya kunjungi, semakin senang rasanya. Saya berpindah dari Ueno Park ke Shinjuku Gyoen, terus mengabadikan momen, membuka galeri foto berkali-kali hanya untuk memastikan hasilnya cukup bagus untuk diunggah nanti. Tanpa saya sadari, dari pagi hingga sore itu mata saya nyaris tidak pernah benar-benar istirahat. Berpindah dari layar ponsel ke pemandangan asli, lalu ke layar kamera, lalu ke layar ponsel lagi. Namun saat itu saya belum terlalu memikirkannya. Yang ada di kepala saya cuma satu: jangan sampai ada spot sakura yang terlewat.
Saat Mata Mulai Memberi Sinyal
Baru menjelang sore saya mulai merasa ada yang aneh. Mata saya terasa sepet, seperti ada yang mengganjal meski tidak kelilipan apa pun. Saya kira itu cuma efek kelelahan biasa karena seharian jalan kaki dan berdiri lama untuk mengambil foto. Saya lanjutkan saja perjalanan, sambil sesekali mengucek mata. Tapi rasa tidak nyaman itu tidak hilang, malah berubah jadi perih, terutama ketika saya menatap layar ponsel cukup lama untuk membaca rute kereta berikutnya. Malamnya, saat rebahan di hostel sambil memilah-milah foto hari itu, mata saya terasa lelah sekali, berat, dan susah fokus meski saya sudah menyipitkan mata berkali-kali.
Awalnya saya cuma bergumam, "Ah, mungkin cuma capek saja." Tapi keesokan harinya, ketika saya kembali berburu sakura di area lain, gejala itu muncul lagi lebih cepat. Saya jadi harus berhenti sejenak setiap beberapa saat, memejamkan mata, sebelum bisa melanjutkan memotret. Ada momen di mana saya sedang berdiri persis di bawah pohon sakura yang sedang mekar sempurna, cahaya matahari menembus kelopaknya dengan indah, tapi saya justru sibuk mengerjap-ngerjapkan mata yang perih sambil berusaha fokus lewat viewfinder kamera. Momen yang sudah saya nantikan bertahun-tahun itu hampir saja terganggu hanya karena saya lupa memperhatikan kondisi mata saya sendiri.
Di situlah saya mulai sadar, selama ini saya terlalu sibuk mengejar momen sampai lupa menjaga diri sendiri. Saya baru ingat, seharian itu saya memang menatap layar ponsel jauh lebih lama dari biasanya, membaca peta digital, mengecek itinerary, membuka kamera berkali-kali, ditambah paparan angin dan sinar matahari khas musim semi yang cukup terik. Semua aktivitas itu diam-diam membuat mata bekerja jauh lebih keras dari yang saya sadari.
Belajar Memberi Jeda pada Mata
Belakangan saya baru paham bahwa rasa sepet, perih, dan lelah pada mata tidak selalu boleh dianggap sebagai capek biasa yang akan hilang sendiri setelah tidur. Ada baiknya mengenali Gejala Mata Kering sejak awal, apalagi kalau aktivitas kita memang menuntut mata bekerja ekstra seperti saat traveling sambil terus-menerus menatap layar.
Sejak hari itu saya mulai mengubah kebiasaan kecil selama sisa perjalanan. Saya coba lebih sering memberi jeda dari layar ponsel, tidak langsung mengecek hasil foto berkali-kali, dan sesekali mengalihkan pandangan ke pemandangan jauh untuk mengistirahatkan mata. Saya juga lebih memperhatikan waktu tidur dan memastikan cukup minum air, karena ternyata kondisi tubuh yang lelah juga memengaruhi kenyamanan mata.
Selain kebiasaan itu, saya juga mencari solusi praktis yang bisa saya bawa selama perjalanan, mengingat saya masih punya beberapa hari lagi untuk menjelajah Tokyo. Dari situ saya mengenal Insto dry eyes, yang saya coba pakai sesuai petunjuk penggunaan saat mata mulai terasa tidak nyaman. Rasanya cukup membantu meredakan sepet dan perih yang tadinya sempat mengganggu momen saya menikmati sakura, sehingga saya bisa kembali fokus menikmati perjalanan tanpa harus terus-menerus berhenti mengucek mata.
Sisa hari-hari saya di Tokyo pun jadi lebih nyaman. Saya tetap memotret sakura sebanyak yang saya mau, tetap jalan kaki menyusuri Sumida River sampai Shinjuku, tapi kali ini saya lebih sadar kapan harus memberi jeda pada mata saya sendiri.
Saya pergi ke Tokyo untuk melihat sakura, tapi pulang membawa pelajaran lain yang tidak kalah berharga: menikmati perjalanan juga berarti menjaga diri sendiri, termasuk hal sederhana seperti kenyamanan mata. Sakura boleh terus diabadikan lewat foto, tapi jangan sampai kita lupa bahwa mata yang menyaksikannya langsung juga butuh perhatian. Mata itu sePeLe, tapi jangan disepelein.
#InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein


0 Comentarios