Pesona Bumi Legenda Batik Nusantara


Meski pernah tenggelam, riwayat batik pun kini mulai mengeliat kembali. Perkembangan dunia busana membuat pengusaha Batik berbenah dan menyesuaikan dengan kekinian zaman. Pun demikian juga dengan Batik Pesisir. Semenjak beradab-abad lampau, batik merupakan perpaduan bukan hanya satu atau dua budaya melainkan banyak kebudayaan, pantas saja Batik bukan dikenal sebagai karya yang biasa namun bisa disebut Maha Karya Bangsa Indonesia.

Warna pesisir memiliki keunikannya tersendiri dan cenderung berani bermain warna. Jikalau Keraton Solo dan Yogyakarta memiliki tone warna cenderung gelap, pesisir justru sebaliknya sangat warna-warni terutama warna biru sedangkan untuk etnis Tionghoa berwarna merah cenderung marun. Coraknya sangat dominan dengan flora dan fauna seperti burung hong, naga, kapal, kereta kuda, bunga, pohon dan lainnya. 


Abad 18 lampau, kaum pribumi bukan hanya satu-satunya yang melakukan bisnis batik melaikan dari bangsa Eropa dan Tionghoa. Jikalau kaum perempuan peribumi cenderung menyukai corak warna yang berasal dari pengaruh Keraton Solo dan Yogyakarta, para Nyonya Eropa cenderung menyukai teduh dan pastel dengan corak dongeng putri salju atau gadis bertudung merah. Sedangkan Tioghoa sangat konsisten dengan warna merah sebagai keberuntungan. Selain mengembangkan dari bahan katun, etnis Tionghoa tertarik dengan kain berbahan sutera yang tersohor di negeri tirai bambu pada masanya.

Lockan, begitulah orang menyebut batik dari bahan sutera berbetuk sarung, selendang dan kain panjang. Perkembangan beradab silam membuat Tionghoa membuat lockan dari kain berukuran lebih kecil karena permintaan pasar yang luar biasa. 



Kini batik pesisir dikembangakan oleh Padepokan Pesisir yang didirikan oleh Haji Failasuf di Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Saat melakukan kunjungan, nuansa Batik sangat terasa mulai dari kereta kuda, bendera batik dan ornamen khas Jawa. Walau matahari sangat terik, namun semangat untuk mengetahui lebih dalam mengenai proses pembuatan batik itu lebih besar. Walaupun sebelumnya pernah mengunjungi proses pembuatan Lasem dan Cirebon sebagai dua kota lain penghasil batik, namun entah mengapa saya lebih senang berada di padepokan ini. 


Halaman luas dengan padepokan berada di tengah yang ramai dengan teman-teman dari Amazing Petung National Explore yang tengah beristirahat sambil menikmati makan siang. Saya pun bersantap siang kemudian tak berapa lama saya masuk ke gerbang di sisi kiri. Dan disanalah proses pembuatan batik dari awal hingga akhir dikerjakan oleh puluhan orang pekerja yang terampil. 



Panjang dan membutuhkan waktu yang lama, begitulah proses pembuatan Maha Karya ini. Namun, dapat disimpulkan menjadi 3 kegiatan penting yaitu memberikan lilin atau malam, pewarnaan dan pelepasan lilin pada kain (pelorotan). Canting seolah menjadi primadona dalam proses tahap awal. Pola-pola digambar pada kain katun polos sesuai dengan corak yang diinginkan. Biasanya kain akan diletakan pada Gawangan. Gawangan adalah tempat meletakan kain seperti layak gawang pada sepak bola, bentuknya perrsegi terbuat dari bambu. 


Setelah selesai diberikan malam, kemudian ditambahkan dengan warna-warna sesuai dengan kebutuhan. Warna-warna biasanya mengunakan bahan-bahan alami seperti orange diperoleh dari kunyit. Proses pewarnaan selesai kemudian dilanjutkan dengan pelepasan malam dari kain dengan teknik pencelupan kain kedalam air mendidih dan air dingin sekaligus. 


Setelah semuanya selesai, kemudian kain di jemur di terik matahari. Setelah kering, kain siap untuk di packing dan dipasarkan. Begitu mudah mengamati proses pembuatannya, namun sebenarnya proses ini sangat panjang. Tak heran batik tulis sangat fantastis harganya karena pembuatannya pun tidak main-main dan mengunkan seluruh hati dan pemikiran. Corak-corak yang dihasilkan pun buah dari karya yang mesti dihargai oleh siapapun. Namun, perkembangan dan tuntutan zaman, kemudian hadirlah batik printing yang disesuaikan dari batik tulis dan cap. 


Kini, Petung Kriyono pun memiliki coraknya tersendiri dan diluncurkan pada hari yang cerah tersebut oleh Bapak Asip Kholbihi, Bupati Kabupaten Pekalongan. Ragam batik ini tentunya akan memperkaya khasanah perbatikan di Kabupaten Pekalongan dan Indonesia. Petung Kriyono yang menjadi paru-paru Kabupaten Pekalongan sangat khas dengan flora dan faunanya sehingga dituangkan kedalam corak batik ini. 



Perjalanan di Kabupaten Pekalongan usai sampai disini. Namun, memori tentang Petung Kriyono dan Batik Pesisir khasnya tidak akan terlupakan begitu saja. Inilah oleh-oleh yang luar biasa dan tidak bisa diganti dengan hanya buah tangan berbentuk fisik semata. Saya bangga dengan kekayaan alam dan budayanya. Inilah cerita singkat dari Bumi Legenda Batik Nusantara, Kabupaten Pekalongan.

Menghirup Udara Petung Kriyono, Paru-Paru Tanah Jawa


Mata kantuk sirna ketika bis berhenti di Doro, sebuah Kecamatan di Kabupaten Pekalongan. Tujuan kami adalah Petung Kriyono, salah satu hutan penyangga di Pulau Jawa. Konon, Petung Kriyono tak hanya sebagai hutan saja melainkan tempat menyepi dan menemukan kedamaian. Kedamaian hakiki yang hilang pada generasi saat ini. Alam yang mempesona dihiasi keanekaragaman flora fauna cukup membersihkan hati dari Duniawi. Dan, perjalanan mencari sebuah kedamaian, kini dimulai.


Anggun Paris berbaris rapi di depan Kecamatan. Bentuknya memang tak secantik model dan iklan shampo, namun daya tahan dan kekuatan tak terkalahkan. Anggun Paris ini akan membawa kami menyusuri setiap sudut alam termasuk Curug Bajing. Anggun Paris penuh dengan besi beratapkan terpal. Suara mesin menderu, tangan saya berpegangan tiang penyanga yang terhubung dengan terpal. 

Matahari cukup kuat sinarnya, hingga saya harus memicingkan saat mulai meihat tumbuhan hijau di sisi kanan dan kiri. Jalanan aspal masih terlihat ketika jarak sudah mulai menjauh dari Doro dan memasuki kecamatan Petung Kriyono. Jika supir melintas tanpa mampir, dipastikan kami akan sampai di Dataran Tinggi Dieng yang berjarak puluhan kilometer di arah selatan. Kami hanya menjumpai hutan sebagai sumber mata pencarian masyarakat. Masyarakat mengenal bercocok tanam dari nenek moyang dari beradab-abad lampau. Tak hanya sayuran, namun kopi robusta pun sebgai salah satu yang tersohor di tanah Jawa.


“Kami senang menyambut tamu dari luar,” ujar Mas Anto, pemandu kami yang bersama-sama duduk di deratan belakang. Semenjak Petung Kriyono dikenal luas, pemuda-pemuda berlomba menawarkan jasa termasuk mendampingi tamu berkeliling destinasi unik di Petung Kriyono. Dan berkah itu pun datang kembali ketika rombongan berjumlah sekitar 70 orang menjelajah kawasan ini. Kami menyebut petualangan ini sebagai Amazing Petung National Explore 2017

Anggun Paris masih meraung-raung menaiki beberapa jalanan terjal walau belum terlalu extreme. Setelah melewati hutan pinus, kami pun sampai di pintu gerbang. Inilah Petung Kriyono dimana alam, budaya dan legenda menyatu dan tak terpisahkan.


Dua Penari meliuk-liuk mempesona puluhan pasang mata. Rempak nada sunda menjadi pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan tarian selamat datang. Rentak tabuhan nada membuat nadi kami bergejolak dan bersemangat menjelajah beberapa destinasi wisata salah satunya Curug Sibedug. 

Selain dua penari, kami dihidangkan kopi khas Petung. Bagi penikmati kopi, dari aromanya saja sudah bisa membedakan kopi arabica atau robusta. Namun, saya membutuhkan waktu lama dan harus bertanya untuk memastikan kopi apakah ini. Setelah sampai dilidah, segala pertanyaan itu sirna, saya hanya menikmati setiap tegukan dan merasakan setiap aromanya.


Tiba-tiba di angkasa kami disambut dua benda terbang. Bukan Drone atau mahluk asing melainkan Elang Jawa yang langka. Menurut kepercayaan, Elang Jawa pantas disebut raja udara yang gagah dalam memangsa anak ayam atau hewan lainnya. Konon, dipercaya bahwa ketika elang berada diangkasa, artinya terdapat bangkai atau mangsa di bawahnya. Malang populasi terancam karena makin tergerusnya habitat asli di hutan hujan ini. Berlawanan dengan kepercayaan nenek moyang, kami percaya bahwa kemunculan dua elang ini adalah keberuntungan.Iya, kami beruntung dapat menikmati kekayaan alam seperti tempat ini. Anggun Paris memanggil, itu artinya kami harus segera melanjutkan perjalanan.


Debu dari jalan berbatuan dan aspal berhamburan. Memang atap Anggun Paris tertutup terpal namun tidak sepenuhnya melindungi kami dari debu. Setelah beberapa menit, air tejun persis di sebelah jalan terlihat jelas. Curug Sibedug berhias dengan merah putih. Airnya tak cukup deras karena kami datang pada saat musim kemarau melanda. Jarak dari pintu masuk menuju air terjun cukup dekat, tak lebih dari satu kilometer. Saya hanya masuk sampai ke tengah saja tanpa menaiki bebatuan ke arah tumpahan air terjun. Rupanya aliran air mengucur dari atas bukit bukan hanya satu melainkan dua sekaligus. Ketajuban saya bukan pada debit air maupun keindahan air terjunya, namun jarak dari jalan raya menuju ke air terjun sangatlah dekat. Jarang sekali menemukan air terjun seperti ini, beruntung sekali saya menemukannya di Petung Kriyono.



Siang mulai beradu dengan awan yang menghitam. Lagi-lagi rombongan kami diliputi keberuntungan, awan hitam dan biru saling berganti namun tidak ada satu pun air yang turun dari langit. Saya menelan ludah tanda kehausan, untung saja masih ada stok air mineral yang tadi dibagikan di Doro. Saya kembali melanjutkan perbincangan dengan Mas Anto yang sudah berada disamping. 

"Beruntung sekali hari ini tidak turun hujan, biasanya dari pagi sudah rintik-rintik," Mas Anto kembali menegaskan cuaca hari ini karena saya sempat menanyakannya. Ya saya dapat merasakan angin sepoi-sepoi dan terbukti beberapa teman mulai menahan kantuknya. Sementara itu, tak berapa lama kami telah sampai di Jembatan Sipinggit.


Kalau orang Jawa Barat memiliki Green Canyon, Petung Kriyono pun memiliki Black Canyon. Meskipun hitam, namun pesonanya tak kalah dengan Canyon-canyon lain. Bahkan, batu-batuan yang berada disekitar sungai dapat memacu adrenalin ketika melakukan rafting. Dipastikan, 2 jam tidak terasa dan ingin mengulang keseruannya. Sayang kami hanya berada disekitar jembatan Sipinggit saja, tidak melakukan rafting. Walaupun sebentar, kami dapat mengabadikan keelokan sungai dan bebatuan.


Selain rafting, sungai dimanfaatkan penduduk sebagai turbin dan mengaliri beberapa puluh rumah di desa Kayu Puring. Bayangkan jika malam tiba bisa dipastikan akan gelap tanpa adanya listrik jika tidak ada turbin pembangkit listrik ini. 

Lima menit setelah kami naik mobil, tiba-tiba saja kami berhenti. Ternyata alam memanggil kami. Di hadapan sudah terhampar sawah-sawah indah dan membentuk terasering. Letaknya persis disebelah jalan, jadi kami hanya turun dan mengeluarkan seluruh gadget yang ada.



Seorang putri turun dari kayangan. Dua sayap itu seperti terbang ketika tertiup angin. Dia melenggok mengikuti irama alam dan kemudian berjalan satu dua langkah mengerakan tangan seperti modal. Dia bukanlah putri kayangan sesungguhnya, hanya seorang penari yang menirukan pesona seorang putri kayangan. Kami membutuhkan seorang model agar bisa membuat pemandangan dalam lensa ini menjadi lebih hidup dan tidak kosong ataupun hampa.  

"Jarak ke Welo Asri hanya beberapa puluh menit saja, sudah dekat. " 

Benar kata Mas Anto, Anggun Paris ternyata sudah memasuki kawasan parkir Welo Asri. Mesin pun mati. Teman-teman yang berada di bak belakang langsung turun. Kami harus berburu dengan waktu, sebab masih ada dua destinasi lain yang harus kami datangi setelah ini. Mata saya langsung menatap jembatan bambu yang menghubungkan dua lokasi berbeda. Sontak teman-teman langsung berfoto di atas jembatan dengan tanda love di belakangnya. Seperti inilah cara kawasan Welo Asri menyambut kami, dengan cinta.



Petung Kriyono layak berjuluk Paru-Paru Tanah Jawa. Hutan alam ini ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Tujuan Khusus (KHTK) dan satu-satunya hutan alam yang masih tersisa di pulau Jawa. Tak heran banyak satwa langka yang masih bertahan di sini, selain Elang Jawa, terdapat Owa-owa. Selain satwa, tumbuhan langka pun banyak ditemukan. Inilah laboratorium alam paling komplit yang melingkari sisi utara sabuk pengunungan Dieng. 

Setelah melawati jembatan bambu, sandal raksasa pun terlihat dengan jelas sebelum turunan ke bawah ke area sungai dan rumah pohon. Selain sungai terdapat curug kedunggede yang berada di bawah area ini. Airnya sangat jernih jika dilihat dari atas. Bahkan kadang-kadang berwarna kebiruan atau tosca. Di area sungai banyak bebatuan besar sampai kecil. Dari atas bisa melihat sungai dengan jelas.




Jika ke rumah pohon seharusnya hanya lurus saja dan melewati jembatan bambu hanya beberapa meter saja. Kemudian, pepohanan dengan ketinggian diatas dua meter akan sering kita lihat. Di pohon tertinggi itulah terdapat rumah pohon. Pantas saja disebut paru-paru, karena segala rupa bentuk pepohonan terdapat disekitar rumah pohon. Saya melihatnya seperti di Afrika karena memiliki sulur-sulur ranting yang tidak memanjang ke atas tidak seperti pohon di Indonesia yang biasanya tumbuh disetiap batang. Sungguh luar biasa saya bangga menjadi warga Jawa Tengah. 

Pemberhentian selanjutnya Curug Bajing. Konon, di kawasan ini terdapat banyak perampok yang sering menjarah semua harta warga. Hasil semua jarahan disembunyikan di balik bukit dan bersebelahan dengan air terjun. Warga pun tak dapat mengatasi perampok tersebut kemudian pindah ke desa di bawahnya. Lama-kelamaan akhirnya perampok tersebut tertangkap. Dari kejadian tersebut, tempat ini disebut sebagai Curug Bajing. Bajing diartikan sebagai perampok.



Kini, Curug Bajing tak seseram dahulu. Sebelum pintu masuk kami disambut warga yang berjualan mulai dari makanan sampai kopi khas Petung. Selanjutnya, kami dihadapkan dua pilihan antara Pohon Selfie atau Curug Bajing. Sebetulnya rasa penasaran ini ingin melihat pohon selfie setelah tadi di Welo Asri mendapati rumah pohon, namun kami diarahkan ke Curug terlebih dahulu.    

Jarak menuju curug harus ditempuh sekitar 15 menit dari pintu masuk. Kemudian untuk sampai di bawah air terjun, kami diharuskan untuk menambah sepuluh menit lagi perjalanan kebawah. Sebetulnya diposisi ini pun curug sudah terlihat dengan indah. Bahkan tempat terindah menikmati curug bukan dari jarak dekat namun jarak sedang seperti ini. Ini menurut saya yang malas menuju bawah karena pada saat pulang jalanan naik telah menanti.



Walau tak sampai ke bawah, udara sore itu cukup segar. Berbeda dengan polusi udara yang terjadi setiap sore di kota-kota besar termasuk Jakarta. Inilah surga, menikmati air terjun yang berada di perbukitan dengan pepohonan. It's perfect holiday. Andai saja saya bisa seharian disini, pastinya satu buah novel ditambah kopi hangat ataupun teh sudah menemani. Sayangnya matahari sudah mulai turun, meski sinarnya masih remang-remang.




Di Curug Bajing, banyak sekali spot untuk berfoto-foto, termasuk spot berbentuk gambar hati ataupun yang berbentuk kupu-kupu. Disamping itu, rumah diatas pohon walau tak setinggi di Welo Asri cukup memuaskan untuk berfoto ala-ala kekinian.

"Banyak sekali adat budaya yang masih kami laksanakan, salah satunya pada saat satu Suro."

Saya sudah berada di Anggun Paris dan meninggalkan Curug Bajing menuju Curug Lawe ketika salah satu pemandu menceritakan adat budaya yang masih dilaksanakan pada saat satu Suro. Kambing Kenditan dan Sedekah Telaga.

Kambing Kenditan bukanlah sembarang kambing. Kambing berwarna hitam ini memiliki garis putih yang melingkar diperutnya. Menurut keyakinan warga, kambing ini sangat spesial dan akan dipersembahkan ke bumi. Kepala kambing akan dipotong dan dikuburkan di tanah warisan para leluhur. Kemudian daging kambing akan dijadikan selamatan seluruh warga.

Berbeda lagi Sedekah Telaga. Telagan Mangunan di Petung Kriyono mempercayai kisah ular besar bernama Baru Klinting dan Putri Raja. Sampai saat ini, kisah itu masih dipercayai dan untuk menghormati kisah tersebut dan memberikan persembahan kepada telaga, digelarlah Sedekah Telaga. Satu kepala kerbau akan diarak dan kemudian dimasukan kedalam telaga pada satu Suro.



Udara sore sudah mulai terasa dingin. Dua cerita tadi cukup sebagai pengantar kami ke Curug Lawe. Setelah memasuki hutan pinus, kami pun sampai. Setelah turun, kami disambut puluhan anak sekolah dengan mengenakan pakaian gelap. Tak berapa lama kemudian, mereka menari dan menyanyikan lagu selamat datang. Meskipun ini akhir dari perjalana, namun saya yakin masih banyak lagi kesempatan untuk datang kembali di Paru-Paru Tanah Jawa. Dan, saya pasti akan kembali lagi. Saya berjanji.

Perlengkapan Penting Yang Wajib Dibawa Saat Traveling Ke Luar Negeri - Smartphone Samsung Salah Satunya


Tokyo, Seoul, London, New York ... 

Sepenggal bait pertama lagu Mister Taxi dari Girl's Generation ini mengingatkan saya pada list-list kota-kota di Dunia, baik yang sudah pernah saya singgahi maupun yang masih menjadi impian. Semoga semuanya akan terwujud dalam waktu yang tak lama lagi, amin.

Traveling dalam beragam keperluan baik itu untuk liburan bersama keluarga, bisnis, backpacking, solo traveling dan lainnya sudah menjadi hal yang lumrah. Jika bepergiannya masih di dalam negeri, persiapannya pun tak sesemrawut dan seheboh yang dibayangkan, namun jika ke luar negeri, persiapannya pun lebih banyak dari yang kita bayangkan. 

Sepele dan kecil kadang memmbuat kita melupakannya, padahal jika dilihat dari urgensinya, barang perlengkapan ini adalah hal yang harus selalu ada dimanapun. Kadang kala hal-hal diluar dugaan seperti kehilangan tas, dompet atau bahkan uang dan kartu kredit membuat perjalanan yang harusnya menyenangkan berubah menjadi dramatis dan runyam. So, ada baiknya persiapkan perlengkapan yang wajib dibawa saat traveling ke luar negeri. 

Apa saja kira-kira perlengkapan yang wajib dibawa, oke mari kita lihat satu per satu perlengkapannya. 

Dokumen penting seperti paspor dan uang cadangan untuk keperluan tak terduga


Dokumen penting seperti paspor, print out tiket perjalanan dan dokumen penting lainnya sering kali terlupakan pada saat hendak traveling. Kesibukan kantor atau kesibukan mengurus perlengkapan traveling lain contohnya, akan membuat dokumen penting terabaikan. Dan, akumulasinya pada saat di counter cek in, ternyata paspor tidak dibawa sama sekali. Atau, paspor hilang pada saat perjalanan diluar negeri, oh no, hal-hal inilah yang membuat liburan jadi hambar bahkan cenderung dramatis.

Agar tidak terjadi hal-hal ini, siapkan paspor atau visa jika negara yang kita tuju membutuhkan visa dan dokumen penting lainnya, kemudian simpan dalam tempat yang aman. Sebelum traveling, fotocopy atau scan dokumen penting tersebut, sehingga terjadi kehilangan atau apapun kita masih memiliki back up dokumen.

Uang cadangan mungkin sangat sepele, namun setelah terjadi peristiwa yang tidak kita sangka misalnya dompet hilang atau masuk rumah sakit. Uang cadangan biasanya disimpan pada tempat tersembunyi misalnya disisipkan di backpack, tas selepang kecil atau sabuk (Money Belt).

Backpack, Daypack dan Money Belt


Setelah membawa carrier atau koper besar, tidak mungkin mengelilingi kota dengan beban berat di punggung. So, bawalah backpack atau daypack yang kecil dan ringkas untuk menampung kamera, notes, air minum, charger dan perlengkapan yang mendukung selama berkeliling menikmati destinasi wisata. Sedangkan fungsi money belt adalah untuk menaruh uang cadangan atau uang emergency yang sewaktu-waktu dibutuhkan.

Universal Adapter dan Charger 



Satu negara dengan negara lainnya memiliki colokan listrik yang berbeda, seperti Singapura dan Malaysia tentu saja berbeda dengan colokan listri yang di Indonesia. Bahkan ketika kita ke Korea Selatan dan Jepang pun memiliki colokan yang berbeda. Universal Adapter adalah solusi terbaik ketika traveling ke negara lain dengan beragam sistem colokan listrik.

Selain universal adapter, jangan lupakan charger smartphone dan kamera. Traveling tanpa mengabadikannya bagiakan makan nasi tanpa lauk, terasa plain dan begitu-begitu saja. So, jangan samapi lupa ya benda kecil yang selalu membuat kerepotkan ketika traveling.  

Kamera Digital dan Action Cam 




Bagi sebagian orang mengabadikan momen pada saat traveling adalah sebuah keharusan. Saat kesebuah negara favorite, tentu saja ini momen sekali seumur hidup, anggap saja kita tidak akan pernah mengujungi negara tersebut untuk kedua kalinnya. Maka, kamera digital dan action cam menjadi list yang harus dibawa. 

Smartphone dan Selfie Stick (Tongsis)


Biasanya selain kamera digital, smartphone pun cukup ringkas dan praktis digunakan pada saat traveling. Apalagi smartphone saat ini sudah dilengkapi dengan kamera yang bagus dan aplikasi pendukung sehingga gambar yang dihasikan cukup memuaskan. Namun, bagi traveler smartphone ini berfungsi sebagai backup data atau sebagai kamera cadangan apabila kamera ditigal habis baterenya. Salah satu kamera yang direkomendasikan untuk traveling adalah Samsung Galaxy A7. Smartphone ini kamera bagus dan spesifikasinya pun telah mendukung untuk digunakan dalam segala situasi.

Apa saja sih spesifikasi Samsung Galaxy A7 yang bisa membantu di dalam traveling ke luar negeri? Galaxy A7 didesain sangat mewah karena terbuat dari bahan dasar kaca dan berwarna gold sehingga sangat elegan. Kameranya beresolusi 16 MP sehingga bisa digunakan sebagai back up dari kamera utama.

Dengan RAM 3GB, Galaxy A7 ini sudah mampu mengoperasikan aplikasi-aplikasi yang sangat berat terutama games yang membutuhkan kinerja smartphone yang cepat. Disamping itu baterenya dirancang sangat tahan lama dengan kapasitas 3.600 mAh sehingga tidak perlu khawatir kehabisan batere pada saat berkunjung ke destinasi wisata favorite. Kamera dengan desian, kamera, kapasitas memori dan batere tahan lama inilah yang membuat saya rekomendasikan Samsung Galaxy A7 untuk menemani perjalanan ke luar negeri.


Selfie Stick atau Tongsis wajib hukumnya dibawa, namun memang ada bebearapa bandara yang melarangnya terutama pada saat dibawa ke kabin. Tongsis lebih aman apabila dimasukan dalam bagasi pada saat cek in. 

Barang satu ini memang wajib dibawa karena membantu kita dalam melakukan swafoto atau selfie. Kalau jalan bersama  dengan keluarga, selfie stick membantu foto bersama tanpa bantuan orang disekitar, nah apalagi kita jalan seorang diri, maka barang satu ini wajib hukumnya. 

Laptop yang ringkas 


Kita tidak tahu betapa pentingnya barang yang satu ini sampai pada suatu ketika semua data foto kita hilang karena terhapus begitu saja. Mimpi buruk dan semuanya jadi runyam. Ini terjadi ketika saya traveling ke Korea beberapa tahun silam, tepatnya 2014. Saat itu saya tidak membawa laptop, pikir saya memori yang banyak, sekitar 32 Giga, sangatlah cukup. Namun kenyataannya, baru dipakai 3 hari saja, memori sudah full. Bukan hanya foto, saya merekam setiap momen dan destinasi yang ada. 

Kemudian, saya minta tolong kepada pemilik hostel untuk mentransfer sebagian foto kedalam flash disk berukuran 16 Giga. Pada saat proses transfer nampaknya akan baik-baik saja, namun setelah dilihat, sebagian data terakhir sudah hilang atau corrupt. Saya shock dan sedih. Masalahnya, belum tentu tahun depan saya ke nami Island. Ini pengalaman pribadi yang saya ingat, dan sekarang saya selalu menyediakan back up minimal membawa laptop yang ringkas dan external hardsik. 

Travel Vacuum Bag

Sumber : easysource
Carrier atau koper penuh dengan pakaian padahal beberapa baang belum masuk kedalamnya? Nah, salah satu solusinya adalah Vacuum Bag. Vacuum bag bisa meringkas pakaian sehingga space dalam carrier atau koper menjadi lebih luas dan barang-barang lain atau bahkan oleh-oleh bisa masuk kedalamnya. Cara pengunanya pun sangat mudah, cukup masukan pakaian yang sudah terlipat kemudian tekan vacuum bag sampai udara yang ada di plastik tersebut keluar dan tutup. Cukup mudah bukan. Selamat mencoba. 

Dry Bag


Dry Bag tentunya menjadi satu benda yang wajib dibawa pada saat traveling. Bukan saja ketika cuaca hujan mendominasi, namun pada saat ke suatu tempat yang didominasi oleh air. Salah satu fungsi dry bag adalah melindungi benda-benda eletronik dari air. Kehilangan data foto sudah mimpi buruk, apalagi kehilangan kamera kesayangan yang dibeli dari hasil menabung selama ini. 

Perlengkapan mencuci dan handuk kecil 

Ketika laundry menjadi hal yang menjadi budget tambahan atau diluar budget, maka salah satu solusinya adalah mencuci. Bawalah sabun cuci kemasan kecil yang praktis dibawa kemana-mana. Apabila sering mengunakan softener, kini kemasan kecil pun sudah banyak ditemukan di mini market atau supermarket. 

Handuk kecil cepat kering biasanya berbahan khusus dan sangat cepat kering karena berbahan dasar fiber. Tentu saja handuk ini wajib dibawa kemana-mana, apalagi jika kamu tidak memiliki waktu untuk mengeringkan handuk karena harus pindah dari satu hostel ke hostel lainnya. So, ini salah satu solusinya. 

Sarung 

Sarung sangat praktis dan ringkas jika dibawa kemana pun. Selain itu, banyak kegunaannya bisa untuk selimut, sholat untuk yang muslim dan bergaya. Sarung pun bisa dipilih mulai dari bahan yang berat samai yang ringan. Boleh juga membawa semacam syal atau kerudung besar seperti sarung. 


Nah, mungkin ini perlengkapan penting yang harus dan wajib dibawa pada saat traveling ke luar negeri. Oh iya jangan sampai lupa membawa notes, maps, payung kecil, jaket dan benda-benda penting lainnya ya. Have nice traveling. 

Semarak Bulan Puasa Ramadhan Di Grand Cempaka Hotel


Rajab menginjak 10 hari terakhir, dan artinya Bulan Ramadhan akan datang. Sahur lagi, Buka Puasa Bersama lagi, ngabuburit lagi, berburu takjil lagi dan masih banyak kebiasaan pada bulan penuh berkah ini segera kita rasakan. Sebagian dari kita pasti akan mencari-cari Jadwal Imsakiyah atau Sholat, kemudian mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental. 

Minggu pertama Bulan Ramadhan, keluarga merupakan prioritas utama. Buka Puasa Bersama keluarga sudah menjadi tradisi dan tidak akan dilewatkan begitu saja. Bagi keluarga besar biasanya secara bergiliran menjadi tuan rumah dan menyediakan semua masakannya. Nah biasanya yang tak mau repot mengadakan acara tersebut di Hotel. Kebetulan Grand Cempaka Hotel, Jakarta, sudah memiliki pilihan menu.


Yup, Harmoni Resturant di Hotel Grand Cempaka menyediakan buffet dengan pilihan menu antara lain Gudeg dan Nasi Kebuli. Gudeg mengingatkan kita pada kota Yogyakarta, sebuah kota dengan kebudayaan yang kental. Sedangkan Nasi Kebuli erat kaitannya dengan nuansa Arab dan Timur Tengah. Dua tradisi yang berbeda namun menyatu dalam Bulan Ramadhan kali ini.


Gudeg memiliki citarasa manis biasa ditemukan di Yogyakarta. Namun, Harmoni Restaurant menyelaraskannya dengan menambahkan sensasi pedas. Variasi gudeg sebetulnya sangat beragam, namun Gudeg Yogyakarta lebih terkenal. Gudeg terdiri dari gudeg basah, kering dan Solo. Pembeda dari ketiganya hanya pada Areh. Gudeg kering disajikan dengan Areh kental, sedangkan gudeg basah disajikan dengan Areh encer. Lain lagi dengan gudeg Solo yang Arehnya berwarna putih. Grand Cempaka Hotel menyajikan Gudeg dengan Areh kental.


Bagi pecinta masakan dari kambing harus mencoba Nasi Kebuli. Nasi ditanak dengan campuran kaldu kambing dan susu kambing. racikan berikutnya adalah minyak samin untuk menumis rempah-rempah termasuk jintan, kapulaga, kayu manis dan pala. Bayangkan aroma yang tercium dari racikan kaya rempah-rempah di Nasi Kebuli ini.

Nasi Kebuli sangat terkenal diMasyarakat Betawi dan Keturunan Arab di Indonesia. Tastenya memang mirip dengan Nasi Briyani, sehingga sangat mudah untuk diterima dikalangan Muslim. Selain Ramadhan, Nasi kebuli biasanya disajikan pada saat momen Hari Besar Islam seperti Maulid Nabi Besar, Lebaran dan Idul Qurban.


Kedua Menu, Gudeg dan Nasi Kebuli merupakan pilihan Buffet di Harmoni Restaurant. Ragam menu lainnya seperti ayam goreng, mie goreng, sayur dan pilihan lainnya juga melengkapi buffet ini.

Paket Menu Ramadhan dan Lebaran Di Hotel Grand Cempaka


Berapa sih harga yang tiwarkan untuk menikmati buffet pada saat berbuka puasa? Tenang saja, hanya dengan Rp 130.000/net termasuk ta'jil dan makan malam. Nah, bagi yang menginap di Hotel Grand Cempaka, dikenakan rate harga kisaran mulai dari Rp 644.000 sudah termasuk Sahur atau makan pagi (sarapan) untuk dua orang. Paket Ramadhan ini berlaku mulai dari 25 Mei - 25 Juni 2017.



Setelah Bulan Ramadhan, tersedia paket lebaran dengan rate harga yang sama Rp 644.000/net per kamar termasuk makan pagi untuk dua orang. Selain itu terdapat paket Halal Bi Halal yang bisa dinikmati dengan harga Rp 200.000 dengan coffee break dan makan siang/malam.


Silahkan yang sudah memantapkan pilihan buka puasa dan berkumpul pada halal bi halal bisa melakukan pemesanan +62 21 4260015 . So, enjoy your Holy Month with your family and friends.

Harmoni Restaurant 
Hotel Grand Cempaka 
Jl. Letjen. Suprapto
Cempaka Putih, Jakarta Pusat
Webiste : www.grandcempaka.co.id