Rooftop Garden Sensation Di Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta


Langit itu terlukis jelas awan putih berarak memanjakan mata yang memandang saat matahari begitu terang bersinar. Saya memperhatikan sekeliling lantai paling atas itu dengan seksama. Angin turut hadir dan membelai-belai tubuh saya yang tak terasa sudah dibanjiri keringat. Cuaca seperti inilah yang memanjakan saya untuk bermain bebas di rooftop. Tanaman yang umumnya sayuran ini tumbuh di selang-selang putih membuat mata saya kembali bersinar. Inilah senasinya memiliki kebun walau tak sebesar yang dibayangkan, namun jika berada di Jakarta, kebun kecil ini bisa saya sebut sebagai "Paradise".

Selang-selang putih itulah yang memberikan kehidupan pada tanaman. Sistem pemberian air ini dikenal sebagai Hidroponik yang sangat ramah lingkungan. Bukan tidak mungkin, dalam beberapa tahun mendatang, sistem tanam ini akan booming dan menjadi primadona di Jakarta. Selain alasan lahan yang terbatas, efektivitas dan keparktisan adalah poin utama melaksanakan hidroponik. 



Rombongan Explore Indonesia Jogja 2016 tak menunggu lama untuk mengabadikan rooftop. Mulai memotret tanaman dan lingkungan sekitar rooftop. Tiba-tiba secara tak sengaja, model dadakan berpose untuk kami. Jepret sana, jepret sini, kami seperti melakukan sesi foto dengan model profesional. Dan hasilnya memang mengagumkan, kami puas dan tertawa bersama melihat keseruan kami melakukan foto-foto di rooftop milik Greenhost Hotel. Tak heran hotel ini menjadi favorite tamu yang menginap karena konsep rooftopnya pun sangat keren.


Boutique Hotel Ramah Lingkungan 

Air sedikitpun sangat dimanfaatkan oleh Greenhost

Menyatu dengan alam dan mengerti lingkungan, Greenhost menyampaikan pesan ini melalui bangunan hotel yang sangat hijau. Atap bangunan dibiarkan menantang langit dan hanya kaca yang menghalanginya dari hujan. Sistem pengairan pun dibuat sangat efektif dan tidak ada satupun yang terbuang percuma dan akan berputar dan disaring kembali menjadi air yang bersih atau digunakan untuk keperluan tanaman dan flush toilet. 

Sedikit banyak, saya belajar untuk mengerti bahwa air yang kita gunakan harus dihemat demi menjaga lingkungan tetap seimbang. Selama ini, saya hanya memandang bahwa air adalah sumber daya yang tak terbatas, namun berkaca dengan belahan bumi lain yang mengalami kekeringan, inilah saatnya untuk lebih memahami pentingnya menghemat air di mana pun berada.


Selain sistem pengairan, konsep hotel sedikit berbeda, bisa dilihat dari perpaduan antara modern dan ramah lingkungan membuat hotel ini seperti rumah kebun. Konsep ini memang sangat cocok bagi wisatawan asing dan wisatawan dalam negeri yang kerap melakukan rutinitas dan berhadapan dengan gedung-gedung pencakar langit dan kemacetan. 

Prawirotaman, sebuah kawasan yang kerap disebut sebagai kampung turis adalah lokasi hotel ini berada. Grafiti menghias sepanjang jalan sebelum memasuki area hotel. Di ujung jalan, aktivitas pasar pun tak boleh dilewatkan begitu saja. Pedagang yang menjajakan dagangnya pun merupakan potret keseharian yang sangat instagramable. So, what are you waiting for? Segera ambil kamera dan jalan-jalanlah di sekeliling dan temukan gambar terbaikmu kemudian share. Sungguh menyenangkan melakukan aktivitas seru ini pada saat sore.


Meet The Room 


Ornamen kayu dan dinding tanpa dicat bagi saya adalah konsep kamar yang memukau. Hotel lain menciptakan kamar dengan cat atau wallpaper sehingga menambah kesan flat, namun Greenhost justru membiar tembok alamiah dan menyatu dengan konsep ramah lingkungan yang telah diusung sebelumnya. 

Kasur cukup lebar dengan selimut tebal dan disampingnya terpasang colokan listrik. Yup, untuk saya, colokan sudah menjadi nyawa kedua, apalagi kamera dan smartphone pun membutuhkan banyak colokan listrik untuk mengisi daya baterai setelah seharian telah digunakan. 



Kamar mandi sangat lengkap dengan perlengkapan mandi dan handuk. Sedangkan lemari pakaian pun tersedia dengan ukuran sedang dan cukup luas untuk menampung beberapa koper atau tas ransel ukuran besar. TV layar datar dengan berbagai channel luar dan dalam negeri siap menemani istirahat saya malam ini. Begitu pula dengan koneksi internet yang lumayan kencang dan membantu aktivitas online beberapa malam di hotel ini.

Tipe-tipe kamar terdiri dari Erick Room, Futura, Rempah 1, Rempah 2, Studio Kita 1-3 dengan arrange harga mulai dari 300 ribu  sampai 1 juta-an. 


Fasilitas Hotel 



Rooftop menjadi salah satu daya tarik Greenhost Hotel, namun fasilitas yang mendukungnya pun tak kalah. Sebut saja Souvenir Shop, Co-working space, Art Kitchen, Greenhost Creative Farming, Meeting Space, Tea Spa, Swimming Pool, Mezzanine Tea Shop, Attic Bar & Lounge, Parkir dan lain-lainnya. 

Fasilitas ini menunjang apapun keperluan saya selama menginap di Greenhost, apalagi konsep hotelnya sangat eco-friendly dan sangat disukai oleh wisatawan asing. Saya beberapa kali bertemu dengan bule-bule yang berseliweran di area lobi ataupun art kitchen. 



Terima kasih kepada airport.id yang telah menyelengarakan event Explore Indonesia Jogja 2016 bersama sponsor salah satunya adalah Greenhost Hotel ini.  

Informasi Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta 

Alamat 
Jalan Prawirotaman II No. 629
Brontokusuman, Yogyakarta

Telepon 
+62274 389 777

Email 
info@greenhosthotel.com

Website 

Maps 


Menyusuri Lorong Waktu Jawa Kuno Di Museum Ullen Sentalu


Di lereng Gunung Merapi yang terkenal dengan wedus gembel saat mengeluarkan lava panasnya, terdapat satu harta karun. Bukan karena kekayaan atau berlian emas semata, namun lebih berharga untuk dikenalkan pada anak cucu kita nanti, supaya mereka bangga akan salah satu identitas budaya yang memgalir dalam darah kita. Ullen Sentalu, satu kawasan seluas hampir dua hektare dan menyimpan seluruh identitas Mataram kuno atau lahirnya budaya Jawa yang melahirkan Solo dan Yogyakarta sebagai dua kerajaan Jawa yang tersohor.

Trip Advisory menempatkan Museum Ullen Sentalu sebagai museum terbaik dan harus di kunjungi pada saat mengunjungi Yogyakarta. Beruntung, airport.id dalam Explore Indonesia Jogja 2016 memasukan museum ini dalam listnya. Sebagai orang yang lahir dan besar bersama budaya Jawa, tentunya tempat ini mengingatkan memori masa lampau. Dahulu, di sekolah secara tak langsung, saya mengenal dan belajar bahasa serta budaya Jawa, namun sejalan dengan waktu, hanya sebagai kecil yang masih melekat di ingatan. Dan mengujungi museum ini, mengusik saya untuk lebih mendalami lagi sejarah dan kejayaan kerajaan Jawa tempo dulu.

Tempat Menyepi Dan Mendekatkan Diri Dengan Alam



Masa lampau, begitu masuk ke bangunan kedua setelah bangunan utama penyambut tamu, sangat terasa sekali. Gaya bangunan indies dengan mengacu arsitektur Eropa yang cenderung kokoh dan berkelas. Pepohonan menghias disekitar bangunan membuat museum ini terasa seperti rumah surga atau nDalem Kaswargan. Seperti labirin, kaki-kaki kami melangkah melewati sekat-sekat bangunan demi bangunan hingga akhirnya disajikan peninggalan budaya Jawa. Raut wajah kami yang semula lelah berubah menjadi serius mendengarkan guide kami menceritkan dibalik lukisan dan benda peninggalan seperti batik, keris dan beragam lainnya.

Baru kali ini saya merasakan aura museum yang sangat menarik dan misterius. Bahkan, tempat ini sangat cocok untuk menyembuhkan luka-luka hati karena kegalauan dan menemukan kebahagian dengan bersemedi. Pecinta yoga pun tak akan melewatkan lokasi seperti ini untuk bermeditasi dan melakukan yoga bersama teman-teman. Hawa sejuk pun turut mendukung tempat dengan luas sekitar hampir 2 hektare ini.


Tentu saja, museum ini menjadi favorite karena lokasinya yang menyatu sekali dengan alam dan akan menjadi tempat pelarian dari rutinitas yang sangat ampuh.

Lorong Waktu Jawa Kuno



Sebelum memasuki Labirin dan berakhir di gedung bergaya indies, sebuah gedung utama menyambut kami. Untuk semetara tidak ada yang istimewa karena hanya menyajikan kebudayaan seni topeng Jawa dan beberapa bongkahan peninggalan dari Candi di sekitar Yogyakarta. Namun, begitu masuk kedalam lorong, suasana berubah drastis.

"Tidak boleh mengambil gambar atau merekam dengan alat apapun," Mba pemandu kemudian melarang kami mengabadikan koleksi Museum.

Mba pemandu secara tegas melarang kami mengambil gambar atau merekam suara. Selain menganggu konsentrasi pemandu dalam menjelaskan, flash dari kamera tentunya akan merusak keaslian koleksi dan ada kepercayaan bahwa setiap koleksi memiliki nyawanya sendiri. Antara nyata dan khayalan, kami dibawa menyusuti lorong waktu menuju masa-masa kejayaan Jawa kuno.


Tidak adanya aktivitas lain membuat kami mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Mba Pemandu. Bahkan, menariknya kami menjadi sangat antusias dan menanyakan hal-hal menarik saat melihat beberapa lukisan Raja, Ratu, Putri atau Pangeran beberapa kerajaan Yogyakarta dan Solo. Saya memang belajar sejarah dari buku di bangku sekolah, namun belum pernah begitu tertarik dengan cerita yang disampaikan Mba Pamandu.

Vorstenlanden, begitulah julukan kawasan yang berada dibawah otoritas Dinasti Matarm Islam yaitu Kasunan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualam. Dahulu sebelum Perang Diponegoro, kawasan Vorstenlanden mencakup wilayah Gunung Slamet sampai ke Gunung Kelud, namun setelah perang terjadi, wilayahnya semakin menciut dan hanya menyisakan wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta sekarang ini.


Dan yang paling terkenal dari sejarah Jawa Kuno adalah perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi Dinasti Mataram menjadi dua bagian yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Momentum inilah yang membuat Mataram tidak memiliki kekuasaan yang tunggal dan terpecah belah. Semenjak Giyanti, Mataram tidak memiliki wewenang yang strategis dan cenderung lemah.

Meninggalkan bayang-bayang kejayaan Mataram, lorong lain pun menanti dengan cerita yang lain. Kali ini, koleksi batik dan pakaian adat terpampang nyata dihadapan kami. Kain batik yang sering kami gunakan ternyata memiliki makna yang berbeda. Parang melambangkan senjata yang siap untuk berperang. Kain batik lainnya pun memiliki makna kesucian dan keanggunan yang biasa digunakan dalam adat pernikahan. Selama ini, saya hanya mengenakan saja baju batik tanpa tahu arti dan makna yang terkandung didalam motifnya.


Gusti Nurul Dan Julia Perez 


Salah satu yang paling menarik dalam lorong selanjutnya adalah ruang Gusti Nurul. Gusti Nurul merupakan putri tunggal dari Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunegoro VII dengan permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Gusti Nurul muda sangatlah mirip dengan artis Indonesia, Julia Perez. Paras mereka sangatlah mirip dengan struktur dan karakter wajah yang hampir sama. Apakah mungkin Julia Perez adalah keturunan dari salah satu raja-raja Jawa ? Atau ini hanya kebetulan belaka? Hanya Tuhan yang dapat menjawab misteri ini.

Pagelaran Seni Budaya Di Ullen Sentalu


Selain menyajikan koleksi unik budaya Jawa, Ullen Sentalu pun mengelar pertunjukan seni dan budaya. Pada Oktober lalu, International Mask Festival telah sukses digelar di museum ini. Pagelaran ini menyajikan sajian tari-tarian topeng khas Jawa. Bukan hanya tarian, namun Magic Mask dan Masterpiece Mask pun turut memeriahkan acara tersebut.

Bagi yang belum mengunjungi Museum Ullen Sentalu ada baiknya untuk melihat videonya terlebih dahulu.


Terima kasih airport.id dan para sponsor yang telah menyelengarakan Explore Indonesia Jogja 2016.


Informasi Museum Ullen Sentalu

Alamat 
Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat
Sleman, Yogyakarta

Telepon 
+62274 895161 

Website 

Jam Buka
Selasa- Jumat : 08.30 - 16.00 WIB
Sabtu - Minggu : 08.30 - 17.00 WIB
Senin Tutup

Harga Tiket Masuk 
Pengunjung Domestik 
Dewasa : Rp 30.000
Anak (Usia 5-16) : Rp 15.000
Pengunjung Mancanegara
Dewasa : Rp 50.000
Anak (Usia 5-16) : Rp 30.000

Email 
ullensentalu@gmail.com

Social Media 
Facebook : Museum Ullen Sentalu
Twitter : @ullensentalu 

Petunjuk Jalan 
Sekitar dua kilometer setelah Gerbang Kaliurang tiba di pertigaan Patung Udang, silahkan mengambil jalan lurus ke Utara dan 500 meter kemudian akan tiba di pertigaan berikutnya, silahkan mengambil jalan kekanan dan 700 meter kemudian akan tiba di lokasi museum.

Maps 



Yuk Bermain Air Di JogjaBay Pirates Adventure Waterpark


Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani berangkat sekarang
Ke laut kita ramai-ramai

Sejenak lagu masa kecil tentang seorang pelaut terngiang di kepala ketika bus rombongan kami melaju menuju salah satu waterpark ternama di Yogyakarta. Saya bersama rombongan Explore Indonesia 2016, berencana mengunjungi JogjaBay. Lokasinya berada di daerah Sleman, Yogyakarta. Tepat setahun lalu, waterpark ini diresmikan di area sekitar 7,7 hektare. Tak heran apabila JogjaBay merupakan salah satu water theme park terbesar, tercanggih dan terlengkap di Indonesia.

Bagaimana dengan wahana permainannya? 19 wahana permainan sangat ready untuk menjamu tamu yang haus memacu adrenalinenya. Saya adalah salah satunya. Walau bukan penyuka hal extreme, namun tak salahnya mencoba beberapa permainan seperti how to survive in tsunami and earthquake, bekti adventure, volcano coaster dan masih banyak lainnya.


Ayo Main Air 



Suasana kapal dan bajak laut sangat kental ketika saya masuk di area depan sebelum pintu masuk. Kapal besar dengan menara mercusuar diujung sebelah kanan seakan menujukan bahwa inilah saat yang tepat untuk bermain air dan memacu adrenaline kita. Setelah memasuki pintu utama, kami disambut petugas tiket dengan beberapa loket yang buka. Harga tiket masuk saat weekdays sekitar Rp 90.000 (Dewasa) dan Rp 60.000 (Anak-anak), sedangkan Weekend harga tiket Rp 100.000 (Dewasa) dan Rp 75.000 (Anak-anak). Untuk anak-anak dibawah 2 tahun, tidak dikenakan tiket masuk atau free, sedangkan batas antara anak-anak dan dewasa ditentukan dengan tinggi 110 cm. So, bagi anak-anak yang telah melewati papan pengukur akan dikenakan biaya yang sama dengan orang dewasa.

Dan here we go, mari kita bermain air. Welcome to pirates and water world ya. Hal pertama yang dilakukan untuk bermain air adalah melihat-lihat wahana mana yang paling cocok untuk saya mainkan, dan pilihan saya jatuh pada how to survive in tsunami and earthquake dan bekti adventure. Mood untuk mencoba wahana lain memang tak muncul pada saat itu, tapi yang terpenting adalah menikmati setiap permainannya kan. Trust me, it is more enjoyable than you play alot things


Kami menuju tempat menaruh semua barang-barang. Untung saja hanya satu tas yang saya bawa. Memang sebaiknya tidak membawa banyak barang untuk masuk ke wahana permainan. Apalagi barang-barang elektronik yang mudah rusak jika terkena air seperti laptop, kamera dan smartphone tanpa case anti air. Yuk saatnya bermain air.

Tip Bermain Air Di JogjaBay


Tentu sangat menyenangkan bermain wahana di JogjaBay, namun ada baiknya mengetahui beberapa tipnya. Mau tahu?

Waktu Berkunjung 

Waktu yang pas untuk berkunjung ke JogjaBay adalah Weekdays dan bukan musim liburan. Sudah menjadi rahasia umum kalau pada musim liburan, waterpark akan sangat ramai dengan pengunjung, maka hindarilah mengajak keluarga pada saat musim seperti ini.

Bawalah Perlengkapan Seperlunya

Saat bermain air, tentunya sangat repot apabila membawa seluruh perlengkapan yang ada. Cukup membawa barang perlengkapan seperlunya, seperti action cam dan perlengkapan berenang. Dengan bawaan ringkas, maka kita akan sangat menikmati permainan air tanpa memikirkan barang bawaan kita.


Pakai Lotion atau Sunblock

Jangan sampai lupa satu barang ini karena sangatlah penting untuk menjaga kulit kita. Tak mau kan kalau kulit menjadi hitam dan terbakar gara-gara terkena sinar matahari yang menyengat, maka bawalah sunblock pada saat sebelum bermain air.

Isi Perut Terlebih Dahulu

Bermain air sangat rawan terhadap masuk angin dan demam, maka sangat disarankan untuk mengisi perut terlebih dahulu. JogjaBay menyedikan beragam makanan seperti bakso, siomay, nasi goreng dan macam-macam lainnya. Kalau lapar atau perut kosong, bisa mengisinya di area makanan dan minuman.


Pilih Wahana Yang Pas 

Nah, ini yang paling penting. Pilihlah wahana yang pas buat kamu. Kalau punya masalah dengan jantung atau memiliki jantung lemah hindari wahana yang memacu adrenaline dan pilihlah wahana yang aman bagimu. Kalau misalnya tidak punya riwayat penyakit, kamu bebas memilih wahana apapun, tapi lagi-lagi perhatikan safetynya sebelum bermain di wahana tersebut.

Wahana dan Fasilitas JogjaBay



Drama Musikal

JogjaBay memiliki pertunjukan Drama Musikal yang tentunya sangat menarik untuk ditonton. Drama Musikal menyuguhkan Icon Karakter diantaranya Lawana, putri cantik, Jose, pemuda tampan, Mimi, kucing sang putri Lawana dan masih banyak karakter lainnya. Pertunjukan ini dapat dilihat setiap hari sabtu dan minggu pukul 15.00-16.00 WIB.

Wahana

JogjaBay memiliki 19 wahana yang menunjang pengunjung bermain seharian dari jam buka sampai jam tutup. Wahana tersebut antara lain Memo Racer, Bekti Adventure, Volcano Coaster, Timo-timo rider, Jolie Raft River, Brando Boomerang, Ziggy Giant Barrel, Mimi Family, Hip Playground, South Beach, dan masih banyak lainnya.


Fasilitas 

Nah, setelah lelah bermain beberapa wahana air, saatnya menikmati fasilitas lainnya yang ada di JogjaBay. Kawasan ini memiliki Restoran seperti Pirate Palace, Gili-gili BBQ, Dapur Lawana, Pool Bar, Mimi Gemi, Timo Memo dan lainnya. Sedangkan yang mau belanja oleh-oleh, JogjaBay Store memiliki banyak koleksi pernak-pernik dan oleh-oleh.

Fasilitas lainnya adalah Spa, Gazebo, Penyewaan loker, penyewaan handuk, layanan foto, Musholla, area parkir, kamar mandi dan lain-lain.


Sore hari waktunya kami pulang meninggalkan wahana dan berganti pakaian kering. Kami melewati beberapa toko souvenir sebelum akhirnya keluar dari wahana. Sangat menyenangkan bermain air bersama rombongan Explore Indonesia 2016 di Jogja yang diselengarakan oleh airport.id. Terima kasih kepada JogjaBay yang sudah menerima kami dengan tangan terbuka.


Informasi JogjaBay

Alamat 
Jalan Maguwoharjo, Depok
Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta

Jam buka 
Senin - Jumat : 09.00 - 18.00 WIB
Sabtu - Minggu : 08.00 - 18.00 WIB

Harga Tiket 
Weekdays
Dewasa : Rp 90.000
Anak-anak (Lansia diatas 65 tahun) : Rp 60.000
Weekend 
Dewasa : Rp 100.000
Anak-anak (Lansia diatas 65 tahun) : Rp 75.000
Tinggi badan diatas 110 cm dikategorikan sebagai dewasa.

Website 
www.jogjabay.com

Maps 

Jakarta Night Journey : Menikmati Malam Dari Puncak Monas


Setiap perjalanan adalah pembelajaran. Dan setiap pembelajaran tentu saja akan membuat seseorang menjadi bijaksana. Pahit manis, suka duka dan tertawa menangis selalu menemai setiap perjalanan. Bahkan dengan seluruh perasaan ini, perjalanan menjadi sangat berwarna. 

Jakarta, salah satu bagian dari perjalanan saya. Beberapa tahun ini, bisa dikatakan tak semulu s yang diharapkan. Namun, Jakarta pun menawarkan sebuah pencapaian manis. Jakarta menawarkan keindahan yang tak kita sangka-sangka sebelumnya. Dan semuanya terangkum dalam Jakarta Night Journey

Indonesia Corners mengadakan Jakarta Night Journey dengan tujuan utama menampilkan sisi lain Jakarta yang tak pernah ditemukan sebelumnya. Indonesia Corners ini merupakan komunitas Travel Blogger di Indonesia (www.idcorners.com).  Beberapa tempat menjadi spot menarik seperti Balaikota Jakarta,  Jakarta Smart City, Kawasan Kota Tua dan Monumen Nasional. Jika saya boleh jujur, saya tak pernah sekalipun naik keatas puncak dan menikmati Jakarta dari ketinggian ratusan meter. 

Menelisik Balaikota Jakarta Dan Jakarta Smart City

Foto : Mba Evi
Sebelum menempati gedung yang sekarang bernama Balaikota Jakarta, pusat pemerintahan Batavia adalah Museum Fatahillah. Pada tahun 1964, Jakarta secara resmi menjadi Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gedung bergaya arsitektur khas Eropa ini masih berdiri kokoh di Jalann Merdeka Barat. Saat melintas kawasan Monas, bangunan ini dapat dengan mudah dikenali sebagai bangunan lama nan indah.

Kini, setiap sabtu dan minggu, warga Jakarta dan sekitar dapat melihat secara langsung Balaikota Jakarta. Tidak ada tiket masuk untuk pengunjung yang ingin melihat lebih dekat seperti apa kemegahan bangunan dilihat secara langsung. Selain bangunan yang menarik, pengunjung bisa melihat secara langsung kantor Gubernur DKI Jakarta. Bahkan jika tidak bisa menemui Gubernur atau Wakilnya, pengunjung dapat berfoto dengan duplikasi dari kedua tokoh tersebut. Tak apalah, yang penting bisa selfie dan narsis bersama kawan-kawan.

Jakarta Smart City (JSC) berada dilantai 3, Balaikota. Kini warga Jakarta patut berbangga dengan adanya JSC. Secara tak langsung, warga dituntut mengunakan teknologi dan komunikasi secara lebih luas dan dapat memberikan input atau masukan pada setiap kejadian melalui JSC. Secara sederhana, JSC merupakan tempat mencari dan mendapatkan informasi, mengirim masukan kepada pemda dan berpastisipasi secara aktif dengan perkembangan Jakarta. Bentuk JSC yang ringkas dan dapat diakses melalui smartphone merupakan point plus dari konsep ini.

Keliling Jakarta Dengan Jakarta City Tour 


Foto : Mba Evi
TransJakarta melalui Bus City Tour mengajak kita menikmati Jakarta dari sisi lain. Tidak seperti bus TransJakarta secara umum, bus ini dikhususkan untuk wisatawan yang ingin berkeliling Jakarta secara gratis. Rute yang paling banyak diminati tentu saja Monumen Nasional - Kota Tua. Setiap Sabtu dan Minggu, bus ini selalu dipenuhi oleh warga yang ingin mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti Arsip Nasional, Kawasan Glodok dan tentu saja Kota Tua.

Tak hanya mengantarkan wisatawan, Bus City Tour ini memiliki seseorang juru bicara yang menjelaskan secara singkat sejarah tempat-tempat yang dilaluinya. Jadi, tak sekedar menikmati suasana Jakarta saja, namun kita mendapatkan pengetahuan sejarah secara menyenangkan. Oh, ini dia yang kita cari dari Jakarta selama ini.

Kawasan Kota Tua (Museum Fatahilah)

Foto : Ulu Bandung Diary
Ramainya orang hari itu, tak kami hiraukan. Kami kemudian mengambil posisi masing-masing dan kemudian dengan cepat sebuah banner besar dibuka dan ditempatkan ditengah. Senyum spontan kami melebar sementara Mba Evi sudah siap membidik potret kami. Klik dan klik. Setelah beberapa kali jepretan, akhirnya kami membubarkan diri secara cepat dan segera menaiki bus city tour kembali.

Kota Tua, sebuah ikon  Jakarta tempo dulu. Batavia, seolah-olah menjadi sebuah pintu gerbang menuju masa sekarang. Bangunan lama seperti Museum Fatahilah yang dahulu berfungsi sebagai balaikota seakan ingin mengungkapkan betapa kemegahan masa lalu masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Apa jadinya jika bangunan lawas itu dirobohkan dan hancur berkeping-keping? Mungkin saja generasi muda tidak dapat belajar dari masa lalu dan menjadi generasi yang lupa sejarah bangsanya sendiri. Bung Karno pernah mengatakan Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kini tugas kita bukan hanya menjaga bangunan agar tak runtuh namun belajar dari sejarah dan masa lalu kelam bangsa kita.

Menikmati Malam Dari Puncak Monas 


Seperti lagu Akademi Fantasi, kami memang menuju puncak, namun bukan puncak gunung atau puncak gedung. Kami akan menuju puncak Monas malam ini. Kami mendapatkan kesempatan khusus untuk naik terlebih dahulu karena kami telah mendapatkan ijin dari pihak manajemen Monas.Waktu normal yang dibutuhkan untuk mencapai Monas biasanya bisa mencapai hitungan puluhan menit atau satu jam bahkan lebih, beruntung kami hanya menunggu beberapa menit saja. Dan, iya kami akhirnya menuju puncak Monas.

Sebelum mencapai Monas, kami terlebih dahulu masuk melalui pintu yang persis dibawah patung Diponegoro atau warga lebih akrab menyebutnya sebagai patung kuda. Setelah masuk, lalu kami melewati tempat pembelian tiket dan selanjutnya kami menuju dibawah cawan dan menunggu selama beberapa menit. Dan setelah itu, kami langsung menuju lift yang terdiri dari 3 bagian yaitu Cawan, tengah dan puncak.



Teng tong. Lift kami pun terbuka, dan saya heboh sendiri karena selama ini belum pernah sekalipun menikmati Jakarta dari puncak Monas. Yes, seumur hidup momen pertama kali inilah yang membuat saya jatuh cinta pada Monas, apalagi malam ini tak begitu mendung jadi kami pun dapat melihat Jakarta secara puas.

Mungkin hampir setengah jam lebih kami berada diatas Monas. Kami pun turun ke daerah cawan Monas dengan senyum yang terukir secara penuh. Mungkin, lain waktu kami akan kembali lagi dan lebih lama lagi menikmati malam bahkan keinginan saya adalah menikmati sunset dari puncak Monas.


Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan Jakarta Night Journey yaitu Pemda DKI Jakarta melalui Bidang Pariwisata, PT TransJakarta, Jakarta Smart City, Kawasan Kota Tua, Kawasan Monumen Nasional. Pihak Sponsor yaitu Asus Indonesia, Blue Bird Group dan Zuri Express. Media Partner yaitu TV One, Antv dan Viva.coid.

Selamat kepada pemenang Jakarta Night Journey Blog Competition, Live Tweet Competition dan Vlog/Video Instagram Competiton. Terima kasih kepada blogger peserta Jakarta Night Journey. Sampai jumpa pada kegiatan Indonesia Corners selanjutnya.