Explore Kampung Batik Laweyan Solo Dan Menginap Di Hotel Pop


Sudah menjadi kebiasaan saya menjelajahi kampung tradisional suatu daerah. Kali ini Solo yang terkenal dengan Batik menarik saya untuk sekedar jalan-jalan di Laweyan. Siapa tak mengenal Laweyan sebagai sentra batik di Solo. 

"Kalau ke Solo, apa yang harus gue kunjungi?"

Saya bertanya sahabat saya yang ada di Solo, Halim. Saya sepertinya sudah sangat cocok dengan Halim dalam hal menjelajahi suatu daerah. Alasannya hanya satu, karena Halim selalu tertarik dengan sejarah apapun termasuk Laweyan yang ternyata menyimpan banyak cerita.

"Kampung Batik Laweyan."

Halim menjawab whatsapp dengan jawaban yang sangat panjang lebar setelah dia menyebutkan daerah itu. Iya, ini kali kedua saya mengunjungi Solo. Dan, saya membutuhkan destinasi yang tak biasa dan cenderung luar biasa. Sebelum mengunjungi Laweyan, saya sempatkan terlebih dahulu ke Pasar Gede, karena memang lapar dan belum sarapan, sengaja saya menahan lapar tersebut. 



Saya cukup terkejut karena Kampung Batik Laweyan ini seperti bukan kampung batik karena kabarnya sudah berubah menjadi kampung religi atau kampung islami. Terlihat dengan grafiti atau corak warna hijau yang sangat dominan. Aktivitas batik membatik sangat jarang terlihat, hanya ada satu dua toko yang buka. Saya dan Halim hanya jalan kaki mengikuti kemana arah kaki ini melangkah sampai di suatu sudut terdapat sebuah rumah batik, tepatnya tempat workshop membatik. Lalu, kaki kami berhenti dan berlabuh di tempat tersebut.



Batik warna-warni seperti lukisan dengan motif abstrak sesuai dengan keinginan pengrajinnya. Saya baru tahu kalau seni batik pun mengalami banyak perubahan seperti dalam hal motif dan corak yang sangat beragam serta mengikuti zaman now yang kaya akan warna. 

Saya hanya mengamati mereka bekerja sambil ngobrol mengenai apapun tentang batik yang sedang mereka kerjakan. Bahkan, terdapat produk kaos batik yang ternyata juga menarik minat kaum muda zaman now. Wah, memang sesuatu yang sangat berbeda ya tapi sangat menarik apalagi saya juga tidak terlalu suka mengenakan kemeja batik fromal, saya lebih suka mengenakan kaos karena lebih nyaman dan tidak terlalu berkeringat. 




Setalah saya mengunjungi Laweyan, saya kembali lagi ke Hotel Pop Solo. Letak Hotel Pop dan Kampung Batik Laweyan tidaklah terlalu jauh sehingga saya memutuskan untuk jalan kaki. Hitung-hitung saya melenturkan lemak yang selama ini mengumpal di badan. 

Hotel Pop di Solo ini memang sangat berbeda dengan lainnya karena mengusung tema warna yang lebih colorfull dan cerah. Warna yang sangat dominan adalah hijau dan biru dipadu warna lainnya seperti merah dan kuning sebagai ornamen. 

Saya menyukai warna biru sebagai warna favorite. Bukan karena saya cowok dan mengharuskan saya memilih sisi maskulin yang ada di biru. Saya menyukai biru karena warnanya selalu menenangkan bahkan dikala gejolak ada di dalam dada, halah hahaha. Makanya saya lebih suka ke pantai daripada gunung, karena birunya laut itu menyenangkan.




Saya cukup terkesan dengan Hotel Pop Solo karena lobby yang luas disertai dengan restoran dengan konsep yang unik. Seperti recycle things disulap menjadi restoran yang sangat bagus dan warna-warni. Oh iya, restoran ini sangat instagramable dan terbuka bagi siapa saja yang akan mampir walau tidak menginap di Hotel Pop. 

Masalah harga di Pit Stop, nama restorannya, tidak usah khawatir karena masih terjangkau mulai dari ribuan sampai puluhan ribu. Selain itu terdapat pilihan paket menarik seharga 20-30an ribu, so bagi yang lapar bisa mampir ke sini. Oh iya, WIFI di restoran ini juga sangat cepat dan super kencang sehingga tugas kuliah atau kerjaan kantor pun bisa diselesaikan dengan cepat. 



Masuk ke dalam kamar, kita disuguhkan dominasi warna hijau dengan warna lain seperti kuning, merah dan biru. Kamar mandinya pun sangat unik dengan bentuk melengkung atau bulatan dengan sabun atau shampoo juga tersedia, namun tidak tersedia pasta dan sikat gigi. Tapi kita mendapatkan air minum dua botol. Televisi dan WIFI juga bisa menjadi hiburan yang sangat menyenangkan kalau misalnya berdiam diri di kamar. 

Kalaupun lapar dan mau berkeliling disekitaran hotel, terdapat restoran dan tempat makan. Kalau misalnya kehabisan duit dan butuh ATM, kebetulan di depan Hotel Pop terdapat Mall Elektronik yang menyediakan berbagai macam ATM. 

Saya membuka jendela kamar, diluar memang sangat terik siang ini. Namun, awan dan langit yang cerah ini membuat saya ingin mengelilingi kota Solo. Saya ingin mengunjungi klenteng atau vihara yang sangat jarang ditemukan di Solo. Setelah tanya sana sini, saya akhirnya memutuskan untuk ke Vihara Dhamma Sundara. 



Pengalaman menginap semalam di Hotel Pop Solo sangat mengagumkan, karena kenyamanan yang dicari sangat tersedia. Juga tempatnya yang sangat strategis dan dekat dengan Kampung Batik Laweyan. 

So, kalau ke Solo dan bingung mau menginap dimana? Saya merekomdasikan Hotel Pop Solo sebagai salah satu hotel yang bagus dan menyediakan fasilitas yang memuaskan untuk kita semua. Harga semalam sekitar 280 K -300 K sehingga sangat reasonable sekali. 

Informasi Hotel Pop Solo

Alamat
Jl. Brigjend Slamet Riyadi, Purwosari,
Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57147

Telepon 
(0271) 3009999

Maps

Destinasi Wisata Yang Wajib Dikunjungi Di Kota Sukabumi


Teh Desy itu tinggal di Sukabumi. Dari dulu saya ngefans sama Teh Desy Ratnasari. Iya memang betul dia sekarang di Jakarta,  tapu saya masih penasaran dengan rumahnya yang ada di Sukabumi. Itulah awal mula saya mengenal Sukabumi. Terdengar sangat klise tapi memang betul saya masih mengagumi Teh Desy sebagai salah satu panutan.

Dan, entah mimpi dari mana,  akhirnya saya pun bisa ke Sukabumi. Rasa saya malu sama diri sendiri,  kenapa negara lain sudah dikunjungi,  namun Kota yang sangat dekat dengan Jakarta malah terlewatkan. Ya,  biar saya memaki diri kenapa saya melewatkan Kota seindah ini.

Jika diberikan waktu 2 hari,  apa saja tempat wisata yang wajib kudu mesti dikunjungi Kota Sukabumi.  Saya punya listnya nih untuk kamu semuanya.

Pemandian Air Panas Cikundul


Kalau Jepang punya Onsen,  Pemandian Air Panas ala Jepang,  Kota Sukabumi pun memiliki Pemandian Air Panas Cikundul. Eits,  bukan Cigundul ya tapi Cikundul. Nama Cikundul sendiri merupakan sebuah kelurahan di Sukabumi.

Kesan pertama saat menginjakan kaki di Pemandian Air Panas Cikundul adalah Refleksi atau menenangkan diri di tengah derasnya rutinitas yang melanda di Jakarta.

Harga tiket sangatlah terjangkau sekitar 3 ribu Rupiah. Setelah masuk ke kawasan Pemandian,  terdapat beberapa pilihan antara kolam air panas dan air dingin. Oh iya,  kolam air panas pun memiliki fasilitas private area. Jadi jika merasa ingin bersama keluarga kecil dan menikmati air panas langsung dari mata airnya,  bisa mengunakan ruang ini. Hanya saja akan dikenakan biaya tambahan yang tak begitu mahal.

Lukisan 3 Dimensi Di Gang Masjid


Jika Malang,  Semarang dan Lampung serta Jakarta memiliki Kampung Warna-Warni, maka Kota Sukabumi pun memiliki Lukisan 3 Dimensi yang dapat dijadikan obyek foto yang menarik.

Ikan Koi dan sungai yang mengalir serta kerindangan hutan pun bisa dirasakan di sebuah gang kecil persisi di sebelah Masjid. Masjid tersebut tidak jauh dari wisata pemandian air panas. Pilihan menarik bagi pelancong yang membawa keluarga atau teman.

Taman Hutan Kota Kibitai


Kota Sukabumi ternyata memiliki paru-paru kota yang cukup rindang dan nyaman. Sukabumi terkenal karena kesejukannya, namun dikala siang terik yang menyengat, orang-orang membutuhkan sebuah taman yang rindang.

Namun memang Taman Hutan Kota ini belum terbuka sepenuhnya untuk publik pun fasilitasnya masih belum baik untuk sebuah taman kota. Seharusnya Taman Hutan Kota ini bisa dibanggakan karena memiliki fasilitas lengkap dan seperti taman-taman di Singapura yang sangat terawat dan bagus.

Bumi Perkemahan Bina Bumi Pakujajar

Kota Sukabumi sangat dinamis dan berusaha memenuhi segala kebutuhan masyarakat. Terbukti dengan adanya Bumi Perkemahan yang cukup luas dengan fasilitas yang menunjang seperti sanitasi dan kebutuhan air bersih.

Kawasan AgroEdu Wisata

Disamping Bumi Perkemahan,  terdapat Kawasan AgroEdu Wisata yang menghadirkan beberapa spot seperti Peternakan, Pertanian,  Teknologi dan lainnya. Benar saja, setelah dari Bumi Perkemahan bisa mampir ke Peternakan Sapi,  Kebun dengan teknologi panel surya dan masih banyak yang menarik lainnya.

Museum Kipahare

Selain wisata alam, Kota Sukabumi juga memiliki wisata Edukasi yaitu Museum Kipahare. Museum ini berdiri dari swadaya masyarakat yang mengumpulkan situs  peninggalan dari wilayah Kota Sukabumi. Disamping itu,  Museum ini mampu bercerita tentang Kota Sukabumi di waktu lampau melalui foto dan peninggalan. Oh iya, selain itu terdapat budaya yang lekat di masyarakat Sukabumi serta kesenian alat musik seperti Tarawangsa yang tetap lestari.

Itu saja sebagian kecil list wisata yang bisa dikunjungi. Sebetulnya masih banyak wisata lain yang bisa dikunjungi. Next akan saya bahas di tulisan selanjutnya.


Indahnya Telaga Warna Dan Sejuknya Perkebunan Teh Gunung Mas Kabupaten Bogor


Kabupaten Bogor memiliki setiap jenis wisata olahraga yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Jabodetabek. Sebut saja Paralayang di kawasan Telaga Warna dan Perkebunan Teh Gunung Mas, Berkuda di sekitar kawasan Gunung Mas, Bersepeda mengelilingi Puncak Bogor, Arung Jeram di Sentul Bogor dan bermain Golf di padang golf di sekitar kawasan Sentul. Betapa lengkap wisata olahraga yang dimiliki oleh Kabupaten Bogor

Telaga Warna


Telaga Warna berada di kawasan Puncak Bogor, tepatnya di Puncak Pass Cisarua. Kawasan ini dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam dengan luas sekitar 5 hektare. Sebelum memasuki  Telaga Warna, kita disuguhkan hamparan kebun teh yang luas, so refreshing banget.  

Telaga Warna memiliki keunikan tersendiri karena dapat berubah-ubah warna tergantung dari warna tumbuhan dan cuaca yang berada disekitar telaga. Air dalam telaga akan memantulkan warna dalam waktu relatif singkat. Namun, kepercayaan penduduk terhadap asal-usul telaga warna ini memiliki cerita tersendiri. Konon ada kaitannya dengan sebuah legenda. Legenda Telaga Warna.



Legenda tersebut bermula dari Kerjaan Kutatanggeuhan. Dahulu Telaga Warna merupakan tempat patilasan atau peninggalan Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Suarnalaya dengan permaisuri bernama Purbamanah. Prabu dan Permaisuri belum dikarunia seorang anak. Sang Raja kemudian melakukan pertapaan untuk mohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa. 

Setelah melakukan pertapaan, Sang Raja kemudian mendapatkan Wangsit untuk mengangkat seorang anak. Dan baru beberapa bulan mengambil anak, kemudian Permaisuri Hamil dan kemudian melahirkan seorang anak perempuan. 



Putri kemudian menjadi anak yang manja karena seluruh permintaan tak pernah ditolak oleh Raja dan Permaisuri. Sampai suatu saat, pada ulang tahunnya, Rakyat memberikan kado spesial berupa kalung. Namun tak disangka bukan diterima oleh Putri melainkan dibanting dan dibuanglah kalung tersebut. Sedih akan perbuatan Putrinya, Permaisuri kemudian mengeluarkan air mata, tak hanya Permaisuri melainkan seluruh penduduk Kerjaan ikut menangis dan mengakibatkan tengelamnya kerajaan. Kemudian tempat itulah yang kini disebut sebagai telaga warna. Konon warna-warni air telaga ini berasal dari kalung yang dibuang oleh Putri.

Wah, ternyata legenda yang beredar di masyarakat ini sungguh luar biasa ya. Percaya atau tidak legenda itu masih dipercaya oleh sebagian Masyarakat Bogor sampai sekarang. Perjalanan ke Telaga Warna ditempuh sekitar 1 jam dari pusat kota Bogor. Pintu masuk telaga, jika dari Bogor berpatokan pada Masjid Atta'awun. Sedangkan apabila dari Cianjur berpatokan pada restoran Rindu Alam. Transportasi sebaiknya mengunakan kendaraan pribadi. Telaga Warna buka dari jam 08.00 dan tutup pukul 17.00 WIB. Harga tiket masuk Rp 7.500 untuk setiap pengunjung.

Perkebunan Teh Gunung Mas


Gunung Mas menjadi magnet pengemar kebun teh seperti saya. Tradisi minum teh di keluarga masih mengalir sampai sekarang. Bahkan saat makan di warung pun pasti memesan teh seduh panas sebagai pelepas dahaga. Saat pertama kali melihat destinasi ini, saya masih mengira bahwa Gunung Mas merupakan sebuah perbukitan, namun tebakan itu terbukti salah ketika melihat kawasan ini dipenuhi kebun teh.

Dari pintu masuk utama, saya telah disambut oleh teh. Bahkan sampai kedalam, teh terlihat dimana-mana. Mata ini terlihat menikmati setiap pemandangan yang disuguhkan, bisa dibilang mata sangat relaks dan inilah terapi yang dibutuhkan oleh mata. Udara juga begitu segar, lepas dari udara polusi perkotaan. 


Wisata Agro (Agro Wisata) adalah sebutan yang cocok untuk kawasan Gunung Mas. Fasilitas yang disediakan pun sangat lengkap mulai dari kebun teh, camping, berkuda, tea walk, tea cafe, paralayang, pemandian air panas dan masih banyak fasilitas lainnya. Dapat saya katakan bahwa kawasan yang dikelola oleh Perkebunan Nusantara VIII ini sangat lengkap dan menjadi wisata yang ramah bagi anak dan keluarga. Apalagi di area ini juga disediakan penginapan yang bisa dipilih mulai dari kapasitas perorangan sampai ke rombongan dalam skala besar. Informasi lengkap mengenai penginapan bisa akses langsung ke sini.


Yang unik dari Gunung Mas adalah sejarah mengenai pembuatan teh yang telah menjadi tradisi. Pabrik teh yang beroperasi dari beberapa puluh tahun lalu masih kokoh berdiri. Tradisi minum teh memang sangat kental dalam masyarakat kita. Tak heran teh masih menjadi primadona. Namun di Gunung Mas, edukasi proses pembuatan teh dari pemetikan hingga menjadi produk dijadikan sebuah kemasan yang menarik. Pasti setiap penyuka teh akan penasaran bagaimana terciptanya setiap aroma khas teh itu berasal. Sayang sekali pada saat saya mengunjungi Gunung Mas, hujan lebat menyambut saya dan rombongan kami. Mungkin suatu saat saya akan kembali dan menikmati setiap aroma teh yang berada di pabrik maupun di tea corner, dibagian depan pintu masuk.

Kuda Siap Mengantar Pengunjung Ke Area Perkebunan Teh
Jarak Gunung Mas dari kota Bogor sekitar 1 jam mengunakan kendaraan pribadi. Apabila mengunakan kendaraan umum dari Bogor, maka terlebih dahulu mengunakan angkot dari stasiun Bogor menuju Botani Square, kemudian disamping jalan terdapat kendaraan elf putih seperti kendaraan pribadi dan kemudian turun di Gunung Mas.

Harga tiket masuk Perkebunan Teh Gunung Mas hanya Rp 10.000 dengan harga parkir sekitar Rp 7.500. Alamat di Jalan Raya Puncak, Cisarua, Bogor. Telepon 0251-8250356. Webiste www.pn8.co.id.

Explore Cikini Dan Menginap Di Hotel Ibis Budget


Jakarta bagi saya adalah sebuah etalase masa lampau. Banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah yang masih kokoh berdiri sampai sekarang. Beruntung, bukti sejarah tersebut tidak dihancurkan begitu saja tanpa adanya rasa memiliki. Mata saya tertuju pada Cikini, sebuah kawasan kecil di tengah kota Jakarta. Meski tempatnya kecil dan terletak di tengah-tengah, namun Cikini sangat melegenda. Sebut saja Taman Ismail Marzuki dan Metropole.

Jakarta sangat beruntung memiliki Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai tempat yang sangat luar biasa. Dahulunya, Taman Ismail Marzuki adalah kebun binatang yang sangat luas di tengah kota. Kemudian, kebun binatang tersebut berpindah ke Ragunan sampai saat ini. Setelah menjadi kebun binatang, tempat tersebutlah yang sekarang menjadi TIM. 



Sebagai tempat seni dan hiburan, TIM mampu memberikan sentuhan lain di tengah gemerlapnya kota Jakarta. Secara pribadi, saya sangat menyukai TIM karena beberapa kali menyaksikan pertunjukan budaya yang sangat jarang dijumpai di tempat lain. Selain itu, saya menyukai pertunjukan musikal dan lagi-lagi TIM mampu menyuguhkannya. 

Bagi anak-anak, Planetarium adalah tempat yang sangat menyenangkan. Oh iya, saya pernah menyaksikan gerhana matahari beberapa tahun lalu, pun TIM menjadi pusat saksi sejarah tersebut. Masyarakat berbondong-bondong menyaksikan peristiwa langka yang hanya akan terjadi beberapa puluh tahun kemudian.


Dan, saya pun sangat beruntung bisa sangat dekat dengan TIM dan Metropole, apalagi bisa merasakan menginap di Ibis Hotel Budget di Cikini.  




Kebetulan banget di area Ibis Budget Cikini ada Kolam Renang Cikini dan Restoran sepanjang lantai dasar. Kalau dengar kata kolam renang dan restoran,  saya pun akan dengan senang hati menikmati sekaligus menyantap dengan sepuasnya. Saya suka renang karena di dalam air dan tidak terlalu secapai lari. Sedangkan,  restoran seperti Warunk Upnormal dan lainnya bikin saya betah nongkrong dan mengerjakan editing video dan blog.



Siapa pun pasti ingin menginap dihotel yang simple namun sangat nyaman. Bagi yang suka backpackeran atau hanya short stay 1 malam tentu akan tertarik dengan hotel yang lumayan murah namun sangat nyaman karena  sudah tersedia WIFI,  handuk, air mineral,  high quality bed dan shower yang bagus. That's it,  saya hanya ingin fasilitas standar yang bagus tentunya.



Oh iya jika pada waktu malam kelaparan,  bisa membeli terlebih dahulu di Restoran atau di Family Mart. Jadi ngga harus kelaparan banget waktu malam. Kalau capek banget bisa pesan massage dan kalau lapar pun,  Hotel Ibis Budget menyediakan layanan pesan makanan di restoran bawah.



Beruntung sekali saya mendapatkan kamar yang lumayan luas di Ibis Budget Cikini, karena dulunya merupakan hotel F1 yang cukup luas kamarnya. Selain itu,  corak warna kamarnya pun sangat menarik yaitu biru dan kuning.


Pemandangan dari dalan hotel pun sangat nostalgic karena beberapa bangunan lama masih sangat terjaga. Pemandangan Jakarta tempo dulu nampaknya sangat lekat dan bisa menjadi pilihan yang sangat bagus di Cikini.

Rasa lelah setelah aktivitas seharian tidak terasa. Yang ada hanya rasa senang ketika menginap di Ibis Budget Cikini. Yuk,  mari rasakan sensasi nyaman dan tenang menginap di hotel yang sangat lengkap ini namun dengan budget yang sangat murah.

Informasi Hotek Ibis Budget Cikini

Alamat :

Jalan Cikini Raya No.75, RT.1/RW.2, Cikini, Menteng, RT.1/RW.2, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10330

Website :

https://www.accorhotels.com/gb/hotel-6594-ibis-budget-jakarta-cikini/index.shtml






Waktu Yang Berhenti Di Pulau Pisang, Lampung


"Ija Mit Pulau Pisang", seolah-olah saya bisa mendengar kata-kata ini keluar dari laut yang terbelah oleh kapal berpenumpang sekitar 10 orang ini. Ija Mit berarti selamat datang. Tujuan kami berlima adalah Pulau Pisang. Sebuah pulau yang berada di pesisir barat provinsi Lampung. Tak sadar badan kami agak sedikit basah karena kapal sedikit menghantam ombak. Begitulah petualangan seru 2 hari ini dimulai. Petualangan menjelajah pulau yang sangat terbatas listriknya. 

Mba Donna (ayopelesiran.com), pernah bercerita sebelum berangkat dari Jakarta, bahwa saya harus mempersiapkan bekal yang cukup karena listrik di pulau ini sangat terbatas. Penduduknya mengandalkan jenset yang mulai dinyalakan dari jam 18.00 - 23.00. Maka dari itu diperlukan powerbank yang cukup banyak dayanya. Oh iya, saya teringat dengan pricebook.co.id, sebuah website yang dapat membandingkan seluruh harga barang dari seluruh situs dan toko di seluruh indonesia. Saya pun mencari informasi tentang powerbank tersebut dari website ini. 

Saya mempunyai tips tentang benda/barang apa saja yang harus dibawa dalam berlibur di Pulau Pisang ini. Yuk kita intip apa saja yang perlu di bawa. 

Power Bank 

Listrik di Pulau Pisang akan padam kala pagi sampai sore, sehingga waktu yang tepat untuk men-charge seluruh gadget adalah pada waktu setelah maghrib hingga tengah malam. Salah satu barang yang harus dibawa adalah Power Bank dengan daya melebihi 10.000 mAH dan dapat digunakan untuk gadget maupun benda lain seperti kipas angin, hair dryer dan laptop. Power Bank Vivan MF 20 adalah jawabannya. Power bank ini memiliki daya 20.800 mAH dan dapat digunakan untuk men-charge apapun melalui saklar yang tersedia. 

Batere Cadangan  

Jangan melupakan batere cadangan terutama kameramu. Sayang sekali kalau momen yang indah di pulau pisang tidak dapat diabadikan dalam kameramu. Bawalah minimal 1 batere cadangan yang sudah dicharge dari rumah atau sebelum mencapai pulau pisang. 


Dry Bag

Kameramu basah karena terkena ombak pada saat menyeberang dari Pelabuhan Krui menuju ke Pulau Pisang. Atau pada saat jalan-jalan menyusuri pantai lalu kameramu jatuh dan tersapu ombak. Hal ini akan mengundang malapetaka baru, so jangan lupa ya untuk membawa dry bag yang terbaik yang kamu miliki. 

Tongsis Atau Tripod

Dua barang ini pastinya akan mempermudah kita dalam mengambil gambar, apalagi jika travelingnya seorang diri. Tongsis dan tripod sebetulnya tergantung dari selera masing-masing, jadi sangat disarankan agar membawa yang tidak merepotkan dan ringkas. 

Setelah semuanya dibawa, marilah kita mulai petualangan yang sangat seru di Pulau Pisang. Bagi saya, berada di pulau ini sepertinya waktu itu terhenti dan dunia tak berputar. Keindahannya membuat saya betah berlama-lama dan menikmati suasana pantai dengan berbagai aktivitasnya. 

Perjalanan Menuju Pulau Pisang 


Sebelum ke Pulau Pisang, saya lebih dahulu menjelajah destinasi lain yang satu arah. Salah satu yang menarik adalah Kampung warna warni Peninjauan dan Pulau pasaran. Kampung Warna-Warni Peninjauan, Teluk Betung Barat, Lampung, merupakan salah satu kampung warna-warni di Indonesia. Meskipun tak sepadat Malang, Yogya ataupun Semarang, Kampung ini sangat menarik karena aktivitas warganya sebagai penghasil kolang-kaling. Jangan salah, kolang-kalingnya sangat tersohor sampai ke berbagai daerah lain di Indonesia.

Saat menginjakan kaki di Pulau Pasaran, saya terkesima dengan hutan bakau yang masih tumbuh subur. Jalanan menuju ke pulau disambung dengan jembatan seluas satu mobil. Panjangnya kira-kira ratusan meter saja tidak sampai 1 kilo. Yang menarik adalah aktivitas melaut, menangkap ikan dan menjemur ikan jadi sesuatu yang unik. Saya cukup menikmati karena di Jakarta, jarang sekali melihat kegiatan seperti ini.


Tiga bocah kecil mengikuti saya dan rombongan, mulanya kami hanya menyapanya saja, namun lama-kelamaan mereka beralih menjadi model ala-ala, bak supermodel. Bahkan saya menyebutnya sebagai iklan layanan masyarakat mengenai pentingnya mengkonsumsi ikan seperti Ibu Pudji, Menteri Perikanan.

Perjalanan menuju ke Pulau Pisang dapat ditempuh dengan jalur Krui, kita bisa melewati jalur lintas barat Sumatera yaitu, Bandar Lampung-Kemiling-Gedong Tataan-Gading-Pringsewu-Talang Padang-Gisting-Kotaagung-Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan-Bengkunat-Krui-Dermaga Tembakak. Jika menggunakan transportasi publik, bisa naik bus dari Terminal Rajabasa, Bandar Lampung dan langsung menuju ke Krui. Atau bisa menggunakan Travel dari Bandar Lampung menuju ke Krui.

Setelah di Dermaga Tembakak, kemudian menggunakan kapal penyebrangan dengan harga sekitar 25-35 ribu per orang dan jam keberangkatan antara jam 7 pagi hingga jam 2 siang, selebihnya akan membayar sangat mahal tergantung kesepakatan. Atau jika ingin menyewa kapal sekitar 250.000-300.000 tergantung dari kesepakatan.

Waktu Yang Berhenti di Pulau Pisang


Ombak beradu dengan kecepatan kapal yang cukup kencang. Saya dan rombongan pun duduk terdiam menikmati langit yang cukup terik. Tak berapa lama, setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, kapal kami bersandar di pantai pasir putih. "Ija Mit", lagi-lagi saya seperti mendengar pulau ini menyambut saya. Senyum menghias wajah-wajah yang terlihat letih karena perjalanan yang cukup panjang.

Kami beristirahat di Homestay yang cukup dekat dengan bibir pantai. Kami di sambut oleh Anjing yang di pelihara pemilik Homestay. Ekornya terkibas-kibas, tandanya anjing ini menyukai kami. Dan, memang betul selama kami bermain di pantai, anjing ini selalu berada di sekitar kami bersama anjing kecil, anaknya.

Setelah makan siang, saya tertidur sangat pulas. Bahkan, ombak pantai yang menderu-deru dan mengajak untuk bermain saya abaikan beberapa saat. Dan, mata terbuka ketika matahari mulai tenggelam di arah barat. Tangan ini kemudian bergegas mengenggam kamera pocket yang terbaru. Dan, sore itu memang tidak menampakan keindahan karena matahari masih malu-malu di balik awan.

Malam hari ketika jenset dinyalakan, kami semuanya memasang charger dan mengecharge seluruh gadget termasuk Power Bank yang memang kami butuhkan saat keesokan harinya.


Keesokan hari, kami berencana untuk naik ke menara untuk melihat keindahan yang luar biasa dari puncak tertinggi di pulau pisang. Saya pun tak mengira bisa naik sampai ke tangga ketiga, karena puncaknya sangat licin dan hanya terdapat tangga tanda adanya penyangga. Namun saya tetap bisa menikmati pulau lain tanpa harus naik sampai yang paling puncak.


Dan, swafoto pun dilakukan sebelum meninggalkan ketinggian diatas menara. Bolehlah berbangga karena bisa naik dan mengabadikannya sebagai oleh-oleh bagi orang yang memiliki badan sebesar saya. Hikmahnya, bukan badan atau fisik yang membuat kita tidak bisa, namun karena niat atau tekad yang kuat pun bisa menyingkirkan keterbatasan fisik yang kita miliki.

Sebelum kami kembali ke Homestay, kami menyempatkan diri mampir di Sekolah Dasar yang dibangun sejak zaman penjajahan Belanda, selain itu juga kami sempatkan berkeliling lagi ke pantai yang luar biasa indah. Perjalanan lain pun menanti, saatnya kami berkemas dan menuju ke kemabli ke Dermaga.