Wisata Asyik Keliling Kota-Kota Di Jepang Dengan Sepeda


Pada saat ke Jepang, dibenak kita pasti akan tergambar transportasi canggih seperti MRT, Kereta Bawah Laut dan moda transportasi lain. Namun pernahkah terbesit dalam pikiran untuk mencoba sesuatu yang beda saat mengelilingi kota Tokyo atau Kyoto dengan Sepeda? Bagi yang belum pernah merasakan sensasi mengelilingi kota-kota di Jepang, kayaknya harus mencobanya. 

Sepeda sepertinya tak asing bagi kita yang tinggal di Indonesia. Banyak yang memanfaatkan moda tranportasi ini di kampung sampai ke kota, namun ternyata masyarakat Jepang juga banyak memanfaatkan moda tranportasi ini karena selain murah, juga sehat. Bahkan, jalur seperti trotoar atau jalur sepeda disediakan khusus. Kadang, sepeda digunakan hanya untuk jarak dekat seperti dari rumah menuju ke Stasiun terdekat, atau untuk berbelanja ke pasar yang tak jauh dari rumah. 

Belakangan ini, traveler yang sudah bosan dengan kereta cepat atau bus mencoba sensasi berbeda dengan menyewa sepeda dan menikmati sekeliling area tersebut. Selain nyaman dan tidak terburu-buru, banyak sekali hal-hal yang tidak kita temukan saat kita mengunakan kereta cepat atau bus. Mungkin saja, tempat yang tidak banyak dikunjungi orang namun memikat hati justru akan ditemukan dengan bersepeda. Bagai menemukan harta karun yang terpedam kan?

Nah, tempat apa saja sih yang cocok untuk mengexplore dengan bersepeda di Jepang? 

Asakusa, Tokyo


Tokyo Skytree Tower nampak menjulang saat langkah terhenti di Sungai Sumida, sungai yang membelah Asakusa dan memisahkannya dengan Tokyo Skytree. Selain Menikmati Sungai Sumida, Asakusa memiliki Kuil Sensoji yang menjadi ikon Tokyo. Selain Sensoji, di sepanjang Nakamise, penjual oleh-oleh khas Jepang. Tentu saja sensasi Jepang dalam tradisional maupun modern bisa dilihat lebih dekat dengan sepeda. 

Kyoto 


Kyoto bisa disebut kembaran dari Yogyakarta. Keduanya sama-sama menjaga tradisi dan budayanya sehingga tak heran jika melihat wanita berpakaian kimono lengkap dan berias sangat tebal. Kalau tidak salah sebutan Geisha ini sering digunakan untuk wanita penghibur dengan konotasi yang kurang baik. Namun, sekarang jumlahnya tidak sebanyak pada abad 18 dan 19. Mengelilingi Distrik Gion dengan pemandangan Geisha, bangunan tradisional dan toko-toko membuat perjalanan lebih terasa menyenangkan. Apalagi kalau ingin mengoleksi banyak foto-foto dari distrik ini.

Shimanami Kaido

Picture : http://www.japan-guide.com/e/e3478.html
Pulau Honshu dan Pulau Shikoku memiliki jembatan penghujung dengan panjang sekitar 60 kilometer yang menghubungkan beberapa pulau dan jembatan. Didaerah ini pula banyak diadakan event internasional seperti lari marathon. Pemandangan dari jembatan ini sangat luar biasa menawan, apalagi pemandangan lau dari pulau Seto. Bersepeda mengelilingi jembatan dan menikmati pulau-pulaunya akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. 

Picture : http://www.japan-guide.com/e/e3478.html
Kibi Plain, Okayama


Kota Okayama menjadi salah satu tempat menarik yang wajib dikunjungi. Seperti layaknya pedesaan di Indonesia, Okayama memiliki pemandangan asri dengan tanaman disepanjang jalan yang dilaluinya. Jepang memang identik dengan Tokyo yang serba cepat dan modern, namun Okayama ini membuktikan sisi lain yang tidak pernah dibayangkan di benak wisatawan pada umumnya. Kibi Plain ini merupakan dataran sepanjang sekitar 17 kilometer dengan padi dan tumbuhan lainnya di samping kanan dan kiri jalan. Dijamin puas menikmati sisi lain dari Jepang ini.

Rental Sepeda Untuk Traveling


Roda jaman berputar, begitu pula dengan teknologi yang digunakan atau ditambahkan pada sepeda. Teknologi tersebut menginsprasi dibuatkan sepeda listrik, apalagi Jepang merupakan salah satu negara dengan inovasi dan teknologi yang luar biasa. Jadi tidak ada keraguan untuk memakai sepeda listrik. Namun karena harga sepeda listrik ini lebih mahal dari sepeda manual, alangkah baiknya menyewa saja ditempat seperti Asakusa, Tokyo atau Kyoto. Harga sewa sepeda berkisar antara 100-300 yen per jam, 400-800 yen per setengah hari dan 1.000-1.200 per hari.

Sebelum menyewa sepeda pastikan membawa fotocopy passport dan sertakan alamat dan nomor handphoe atau email yang bisa dihubungi. Hal ini untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan atau pencurian sepeda.

Aturan bersepeda di Jepang bisa dibilang sangat ketat, seperti gunakan jalur khusus sepeda atau trotoar jika tidak ada jalur khusus. Kemudian disarankan untuk mengunakan helm sepeda. Dan dilarang parkir sembarangan, dan apabila melanggar maka akan terkena denda. Jangan lupa untuk mengunci sepeda, karena bisa saja orang lain mengunakan tanpa tahu milik siapa. Untuk menghindari hal-hal yang kurang jelas, sebaiknya menanyakan secara langsung pada tempat menyewa sepeda.

Okay, setelah menyewa sepeda, kini saatnya menelusuri tempat yang tersembunyi di Jepang. Selamat bergowes. Jya, matta ne.

Kerala (India) Blog Express Season 4


Seperti de javu, saya kembali membangunkan mimpi setahun lalu. Kerala, sepertinya nama ini terus memanggil-manggil dan terus berputar-putar di kepala. Hanya saja, salah satu provinsi atau bagian di India ini begitu meresap sampai-sampai setiap malam saya harus memutar-mutar kepala agar dapat menginjakan kaki untuk pertama kalinya di India.

Kerala Blog Express telah memasuki season 4. Saya ternyata pernah mencoba mendaftar pada tahun 2014 lalu, namun karena blog saya masih belum memiliki domain dot com, tentu saja membuat percobaan ini gagal. Di tahun berikutnya, saya telah memiliki domain dan banyak teman-teman blogger yang mendukung, dan Alhamdulillah saya finish di urutan ke-2 pada saat penutupan voting, namun sepertinya Tuhan belum mengizinkan saya singgah ke India, saya pun gagal berangkat. Dan tahun inilah kesempatan yang bagus untuk melanjutkan momentum dan impian saya pergi ke India. 

Kerala Blog Express Season 3
Setiap jengkal di Kerala merupakan berkah dari Tuhan. Sepertinya Tuhan dan Para Dewa ingin memberikan secuil tanah yang berada disurga untuk ditempatkan di Kerala. Tempat Para Dewa berkumpul, seperti itulah kata-kata yang pantas mengambarkan keindahan alamnya. India memang identik dengan New Delhi atau Kalkuta, namun dengan perkenalan saya dengan Kerala, saya rasa India patut berbangga dengan keistimewaan Kerala. Kerala adalah God's Own Country

Menyalakan Asa Ke Kerala


  
Dengan bekal pengalaman tahun lalu, saya mulai meminta ("Ngemis") vote mulai dari inbox di facebook, WA satu per satu kontak yang ada, kemudian meminta dukungan dari komunitas dan grup blogger, dan menyebarkan secara luas di social media mulai dari twitter, instagram, path dan facebook. Mulanya dukungan secara cepat didapatkan, namun perlahan-lahan kemudian mulai stagnan. Pada saat kondisi itulah, saya mulai berkonsultasi dengan Mba Donna dan Haryadi (Omnduut), tentang apa strategi yang bisa dilakukan, karena hal itulah yang bisa saya manfaatkan untuk mendorong motifasi saya ke Kerala.

Beberapa minggu waktu saya hampir habis hanya untuk meminta vote satu per satu, namun seperti berkejaran dengan waktu dan saingan yang teman dari Indonesia yang kebetulan saya kenal secara pribadi membuat motivasi saya mulai meluntur, namun beberapa minggu sebelum penutupan saya mulai membulatkan tekad, bahwa setiap orang tentu saja berhak mendapatkan apa yang ia impikan dengan usaha. Dengan keyakinan, saya pun tetap melakukan hal-hal yang saya lakukan di awal.

Saya meminta Vote dengan cara : 


2. kemudian tekan tombol atau tanda jempol VOTE NOW 


3.  Kemudian Login dengan akun facebook
4. Dan "DONE", terima kasih sudah Vote

Dan hasilnya sampai saat ini, saya merupakan peringkat ke 12 secara keseluruhan dan peringkat ke 2 di Indonesia. 


Peringkat 12 Dunia

Peringkat 2 Indonesia
Dalam bulan Januari 2017, Pihak Kerala Tourism atau Panitia Kerala Blog Express akan menyeleksi sebanyak 30 kontestan dari seluruh Dunia dan diprioritaskan yang berada di 30 besar. Namun, bukan Kerala Blog Express namanya kalau tidak ada kejutan, pada 3 season sebelumnya, belum tentu 30 besar secara vote akan otomatis akan berangkat, karena akan disesuaikan dengan jatah per negara dan tentu saja faktor X lain yang kurang kami pahami. Namun, sekali lagi, saya hanya manusia yang bisa berusaha dan berdoa yang terbaik. Semoga saya bisa menginjakan kaki saya di Kerala, India. Amin.

Terima kasih kepada semua teman-teman seluruhnya mulai dari teman di Pemalang, Semarang, Jakarta, teman komunitas Indonesia Corners, Blogfam, teman-teman lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Doakan semoga saya bisa berangkat ke Kerala. Amin Ya Allah. 

Selamat Datang Di Kerajaan Kera Hutan Nepa, Madura


Bukan manusia yang menyambut saya dan rombongan blogger dari seluruh penjuru Indonesia, ketika memasuki Hutan Nepa. Beberapa ekor keralah yang menyambut sore ini. Cuaca sedikit mendung tak menyurutkan niat mengelilingi Hutan Nepa. Mungkin karena tak panas inilah, puluhan kera berkeliaran mengikuti langkah kami ke dalam hutan.

Nepa disebut demikian karena di daerah ini banyak tumbuh tumbuhan 'Nipah'. Penyebutan masyarakat di Kabupaten Sampang ini membuatnya bergeser menjadi Nepa. Sebelum masuk ke Hutan, terlebih dahulu melewati bibir pantai yang disebut pantai Nepa sesuai dengan nama Hutan. Kegunaan pohon Nipah ini sangat banyak, Salah satunya bisa digunakan sebagai atap rumah pada dahulu sebelum mengunakan genting. Selain itu, Nipah berfungsi sama dengan bakau, menahan pengikisan tanah dari gelombang air laut.     


Kera-kera ini bukanlah perwujudan dari hewan sesungguhnya. Masyarakat percaya bahwa kera-kera ini adalah prajurit-prajurit Raden Segoro. Raden Segoro adalah putra dari Putri Kerajaan Gilingwesi. Prajurit ini melawan Prajurit dari negeri asing hingga sekarang, kera-kera ini pun terbagi dalam dua kubu besar. Peraturan dalam kerajaan kera ini adalah barang siapa yang memasuki wilayah kerajaan kera lain, maka tak ada jalan lain kecuali harus mati, kecuali pada saat kedua kerajaan diserang oleh pihak-pihak luar. 

Peraturan tidak tertulis inilah yang membuat saya cukup terperangah dan penasaran dengan kehidupan kera secara lebih dekat. Namun, semakin kaki melangkah, kera-kera tidak mau menampakan diri, hanya beberapa kera saja yang antusias dengan kami. 

    

Sore ini nampak sepi, sepertinya hanya rombongan kami saja yang melintas sampai ke tengah Hutan dan melihat petilasan Kyai Poleng. Kyai Polong merupakan penjaga Puteri kerajaan Gilingwesi dan Raden Segoro. Merekalah yang dipercaya sebagai nenek moyang di Pulau Madura ini.


Melihat tingkah polah kera seperti mereka memiliki dunia mereka sendiri dan sangat kocak. Beruntung kera yang kami temui tidak agresif dan cenderung kooperatif dengan manusia. Ini juga yang masyarakat percaya bahwa kera-kera ini masih memiliki sifat manusia yang dibawa pada saat menjadi prajurit Raden Segoro. 

Kisah nenek moyang Pulau Madura memang sangat menarik, dari mulut ke mulut dan turun temurun cerita ini digaungkan sehingga telah tertanam di alam bawah sadar. 




Terima kasih kepada #BPWS dan Plat-M yang telah mengundang saya dan blogger-blogger nusantara dalam acara #MenduniakanMadura

Saatnya Memacu Adrenaline Dengan River Tubing Sungai Pusur Klaten


Dalam kamus saya, adrenaline adalah ketakutan. Artinya apapun yang memacu adrenaline adalah menakutkan dan harus dihindari. Namun, sejalan dengan waku saya belajar untuk menaklukan adrenaline dan pelan-pelan bersahabat dengannya. Dahulu, wahana-wahana di Dufan adalah momok, namun sekarang dufan adalah kesenangan yang harus dirayakan. Kini, satu per satu saya mulai bermain dengan adrenaline, walaupun menurut khalayak umum masih dianggap belum begitu memacu adrenaline.

Explore Indonesia Jogja 2016 bersama Aqua Lestari membuka mata saya dan rombongan. Kami diajak untuk liburan sekaligus memacu adrenaline dengan mendatangi tempat water sport yang berada di Klaten, Jawa Tengah. Sebut saja River Tubing, salah satu water sport yang memacu adrenaline dan tenar di social media. Klaten ternyata memiliki River Tubing salah satunya adalah dikawasan sepanjang Sungai Pusur.


Beberapa tahun lalu, sungai pusur lebih mirip TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah dari hulu sampai hilirnya. Warga berlomba-lomba membuang setiap limbah rumah tangga setiap hari selama puluhan tahun. Akibatnya, Sungai Pusur berubah menjadi tercemar dan tak elok dipandang mata. 

Aqua Lestari bersama pemuda-pemuda dari kecamatan Polan Harjo, Klaten berhasil mendobrak kebiasaan membuang sampah tersebut dengan program bank sampah dan kerajinan dari limbah sampah. Hasilnya, luar biasa, sampah yang tadinya mengunung dan menumpuk ditepian sungai, lenyap dalam sekejap. Sungai kembali bersih dan membuat pemuda-pemuda berinisiatif memanfaatkan sungai menjadi water sport yang memacu adrenaline.


Siap Memacu Adrenaline


Kami berpacu dengan waktu, karena matahari sebentar lagi akan tenggelam. Hampir pukul 4 sore ketika pick up tiba ditempat. Saya tak membawa apapun kecuali tubuh dan baju yang melekat. Beberapa orang menenteng action cam untuk mengabadikan keseruan sore itu. Sehari sebelumnya, kami telah bermain dengan adrenaline di Sungai Oyo, sekitar Yogyakarta. Dan kali ini, kami pun melakukan hal yang sama, namun medannya tentu akan berbeda. Sensasinya juga berbeda.

Sebelum berangkat ke sungai, kami mendapatkan penjelasan singkat mengenai alat dan keamanan yang digunakan saat menyusuri sungai pusur. Terdapat helm dan baju pelampung yang kami gunakan, sedangkan kami mengunakan ban besar selama menyusuri sungai.

Kami harus meneteng sendiri ban besar sampai ke sungai yang tak jauh dari tempat mendapatkan briefing tadi. Hanya saja kami harus melewati rumah-rumah warga sebelum sampai di sungai.


Dan, akhirnya sungai pusur pun terlihat dengan jelas didepan mata. Airnya nampak bening cendrung cokelat karena tanah yang berada disekitar sungainya berwarna cokelat gelap. Struktur sungai pusur ini cenderung berbatu dan arusnya lumayan deras. Bisa dibayangkan betapa tertantangnya kami menjelajah sungai pusur ini.

Ban dilemparkan ke sungai, kemudian kami harus melawati bendungan ter;ebih dahulu sebelum berpacu dengan arus. Dan yup, kemudian setelah sampai bawah ban dinaiki dan akhirnya kami siap berpacu dengan adrenaline.


Awalnya saya sempat terjatuh beberapa kali, namun akhirnya saya bisa mengendalikan ban dengan baik dan melaju. Karena bebatuan dan sungainya tak terlalu lebar, sempat membuat ban saya tersangkut kembali, namun beruntung saya lolos kembali.

Sungguh petualangan yang sangat menyenangkan sekali. Apalagi Sungai Pusur ini menjadi salah satu River Tubing yang dikelola sendiri oleh pemuda desa di Klaten, Jawa Tengah .Apabila berminat untuk memacu adrenaline, informasi selengkapnya bisa ke fanpage River Tubing Sungai Pusur.


Terima kasih Airport.id dan Aqua lestari serta sponspor lain dalam acara Explore Indonesia Jogja 2016.



Rooftop Garden Sensation Di Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta


Langit itu terlukis jelas awan putih berarak memanjakan mata yang memandang saat matahari begitu terang bersinar. Saya memperhatikan sekeliling lantai paling atas itu dengan seksama. Angin turut hadir dan membelai-belai tubuh saya yang tak terasa sudah dibanjiri keringat. Cuaca seperti inilah yang memanjakan saya untuk bermain bebas di rooftop. Tanaman yang umumnya sayuran ini tumbuh di selang-selang putih membuat mata saya kembali bersinar. Inilah senasinya memiliki kebun walau tak sebesar yang dibayangkan, namun jika berada di Jakarta, kebun kecil ini bisa saya sebut sebagai "Paradise".

Selang-selang putih itulah yang memberikan kehidupan pada tanaman. Sistem pemberian air ini dikenal sebagai Hidroponik yang sangat ramah lingkungan. Bukan tidak mungkin, dalam beberapa tahun mendatang, sistem tanam ini akan booming dan menjadi primadona di Jakarta. Selain alasan lahan yang terbatas, efektivitas dan keparktisan adalah poin utama melaksanakan hidroponik. 



Rombongan Explore Indonesia Jogja 2016 tak menunggu lama untuk mengabadikan rooftop. Mulai memotret tanaman dan lingkungan sekitar rooftop. Tiba-tiba secara tak sengaja, model dadakan berpose untuk kami. Jepret sana, jepret sini, kami seperti melakukan sesi foto dengan model profesional. Dan hasilnya memang mengagumkan, kami puas dan tertawa bersama melihat keseruan kami melakukan foto-foto di rooftop milik Greenhost Hotel. Tak heran hotel ini menjadi favorite tamu yang menginap karena konsep rooftopnya pun sangat keren.


Boutique Hotel Ramah Lingkungan 

Air sedikitpun sangat dimanfaatkan oleh Greenhost

Menyatu dengan alam dan mengerti lingkungan, Greenhost menyampaikan pesan ini melalui bangunan hotel yang sangat hijau. Atap bangunan dibiarkan menantang langit dan hanya kaca yang menghalanginya dari hujan. Sistem pengairan pun dibuat sangat efektif dan tidak ada satupun yang terbuang percuma dan akan berputar dan disaring kembali menjadi air yang bersih atau digunakan untuk keperluan tanaman dan flush toilet. 

Sedikit banyak, saya belajar untuk mengerti bahwa air yang kita gunakan harus dihemat demi menjaga lingkungan tetap seimbang. Selama ini, saya hanya memandang bahwa air adalah sumber daya yang tak terbatas, namun berkaca dengan belahan bumi lain yang mengalami kekeringan, inilah saatnya untuk lebih memahami pentingnya menghemat air di mana pun berada.


Selain sistem pengairan, konsep hotel sedikit berbeda, bisa dilihat dari perpaduan antara modern dan ramah lingkungan membuat hotel ini seperti rumah kebun. Konsep ini memang sangat cocok bagi wisatawan asing dan wisatawan dalam negeri yang kerap melakukan rutinitas dan berhadapan dengan gedung-gedung pencakar langit dan kemacetan. 

Prawirotaman, sebuah kawasan yang kerap disebut sebagai kampung turis adalah lokasi hotel ini berada. Grafiti menghias sepanjang jalan sebelum memasuki area hotel. Di ujung jalan, aktivitas pasar pun tak boleh dilewatkan begitu saja. Pedagang yang menjajakan dagangnya pun merupakan potret keseharian yang sangat instagramable. So, what are you waiting for? Segera ambil kamera dan jalan-jalanlah di sekeliling dan temukan gambar terbaikmu kemudian share. Sungguh menyenangkan melakukan aktivitas seru ini pada saat sore.


Meet The Room 


Ornamen kayu dan dinding tanpa dicat bagi saya adalah konsep kamar yang memukau. Hotel lain menciptakan kamar dengan cat atau wallpaper sehingga menambah kesan flat, namun Greenhost justru membiar tembok alamiah dan menyatu dengan konsep ramah lingkungan yang telah diusung sebelumnya. 

Kasur cukup lebar dengan selimut tebal dan disampingnya terpasang colokan listrik. Yup, untuk saya, colokan sudah menjadi nyawa kedua, apalagi kamera dan smartphone pun membutuhkan banyak colokan listrik untuk mengisi daya baterai setelah seharian telah digunakan. 



Kamar mandi sangat lengkap dengan perlengkapan mandi dan handuk. Sedangkan lemari pakaian pun tersedia dengan ukuran sedang dan cukup luas untuk menampung beberapa koper atau tas ransel ukuran besar. TV layar datar dengan berbagai channel luar dan dalam negeri siap menemani istirahat saya malam ini. Begitu pula dengan koneksi internet yang lumayan kencang dan membantu aktivitas online beberapa malam di hotel ini.

Tipe-tipe kamar terdiri dari Erick Room, Futura, Rempah 1, Rempah 2, Studio Kita 1-3 dengan arrange harga mulai dari 300 ribu  sampai 1 juta-an. 


Fasilitas Hotel 



Rooftop menjadi salah satu daya tarik Greenhost Hotel, namun fasilitas yang mendukungnya pun tak kalah. Sebut saja Souvenir Shop, Co-working space, Art Kitchen, Greenhost Creative Farming, Meeting Space, Tea Spa, Swimming Pool, Mezzanine Tea Shop, Attic Bar & Lounge, Parkir dan lain-lainnya. 

Fasilitas ini menunjang apapun keperluan saya selama menginap di Greenhost, apalagi konsep hotelnya sangat eco-friendly dan sangat disukai oleh wisatawan asing. Saya beberapa kali bertemu dengan bule-bule yang berseliweran di area lobi ataupun art kitchen. 



Terima kasih kepada airport.id yang telah menyelengarakan event Explore Indonesia Jogja 2016 bersama sponsor salah satunya adalah Greenhost Hotel ini.  

Informasi Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta 

Alamat 
Jalan Prawirotaman II No. 629
Brontokusuman, Yogyakarta

Telepon 
+62274 389 777

Email 
info@greenhosthotel.com

Website 

Maps 


Menyusuri Lorong Waktu Jawa Kuno Di Museum Ullen Sentalu


Di lereng Gunung Merapi yang terkenal dengan wedus gembel saat mengeluarkan lava panasnya, terdapat satu harta karun. Bukan karena kekayaan atau berlian emas semata, namun lebih berharga untuk dikenalkan pada anak cucu kita nanti, supaya mereka bangga akan salah satu identitas budaya yang memgalir dalam darah kita. Ullen Sentalu, satu kawasan seluas hampir dua hektare dan menyimpan seluruh identitas Mataram kuno atau lahirnya budaya Jawa yang melahirkan Solo dan Yogyakarta sebagai dua kerajaan Jawa yang tersohor.

Trip Advisory menempatkan Museum Ullen Sentalu sebagai museum terbaik dan harus di kunjungi pada saat mengunjungi Yogyakarta. Beruntung, airport.id dalam Explore Indonesia Jogja 2016 memasukan museum ini dalam listnya. Sebagai orang yang lahir dan besar bersama budaya Jawa, tentunya tempat ini mengingatkan memori masa lampau. Dahulu, di sekolah secara tak langsung, saya mengenal dan belajar bahasa serta budaya Jawa, namun sejalan dengan waktu, hanya sebagai kecil yang masih melekat di ingatan. Dan mengujungi museum ini, mengusik saya untuk lebih mendalami lagi sejarah dan kejayaan kerajaan Jawa tempo dulu.

Tempat Menyepi Dan Mendekatkan Diri Dengan Alam



Masa lampau, begitu masuk ke bangunan kedua setelah bangunan utama penyambut tamu, sangat terasa sekali. Gaya bangunan indies dengan mengacu arsitektur Eropa yang cenderung kokoh dan berkelas. Pepohonan menghias disekitar bangunan membuat museum ini terasa seperti rumah surga atau nDalem Kaswargan. Seperti labirin, kaki-kaki kami melangkah melewati sekat-sekat bangunan demi bangunan hingga akhirnya disajikan peninggalan budaya Jawa. Raut wajah kami yang semula lelah berubah menjadi serius mendengarkan guide kami menceritkan dibalik lukisan dan benda peninggalan seperti batik, keris dan beragam lainnya.

Baru kali ini saya merasakan aura museum yang sangat menarik dan misterius. Bahkan, tempat ini sangat cocok untuk menyembuhkan luka-luka hati karena kegalauan dan menemukan kebahagian dengan bersemedi. Pecinta yoga pun tak akan melewatkan lokasi seperti ini untuk bermeditasi dan melakukan yoga bersama teman-teman. Hawa sejuk pun turut mendukung tempat dengan luas sekitar hampir 2 hektare ini.


Tentu saja, museum ini menjadi favorite karena lokasinya yang menyatu sekali dengan alam dan akan menjadi tempat pelarian dari rutinitas yang sangat ampuh.

Lorong Waktu Jawa Kuno



Sebelum memasuki Labirin dan berakhir di gedung bergaya indies, sebuah gedung utama menyambut kami. Untuk semetara tidak ada yang istimewa karena hanya menyajikan kebudayaan seni topeng Jawa dan beberapa bongkahan peninggalan dari Candi di sekitar Yogyakarta. Namun, begitu masuk kedalam lorong, suasana berubah drastis.

"Tidak boleh mengambil gambar atau merekam dengan alat apapun," Mba pemandu kemudian melarang kami mengabadikan koleksi Museum.

Mba pemandu secara tegas melarang kami mengambil gambar atau merekam suara. Selain menganggu konsentrasi pemandu dalam menjelaskan, flash dari kamera tentunya akan merusak keaslian koleksi dan ada kepercayaan bahwa setiap koleksi memiliki nyawanya sendiri. Antara nyata dan khayalan, kami dibawa menyusuti lorong waktu menuju masa-masa kejayaan Jawa kuno.


Tidak adanya aktivitas lain membuat kami mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Mba Pemandu. Bahkan, menariknya kami menjadi sangat antusias dan menanyakan hal-hal menarik saat melihat beberapa lukisan Raja, Ratu, Putri atau Pangeran beberapa kerajaan Yogyakarta dan Solo. Saya memang belajar sejarah dari buku di bangku sekolah, namun belum pernah begitu tertarik dengan cerita yang disampaikan Mba Pamandu.

Vorstenlanden, begitulah julukan kawasan yang berada dibawah otoritas Dinasti Matarm Islam yaitu Kasunan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualam. Dahulu sebelum Perang Diponegoro, kawasan Vorstenlanden mencakup wilayah Gunung Slamet sampai ke Gunung Kelud, namun setelah perang terjadi, wilayahnya semakin menciut dan hanya menyisakan wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta sekarang ini.


Dan yang paling terkenal dari sejarah Jawa Kuno adalah perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi Dinasti Mataram menjadi dua bagian yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Momentum inilah yang membuat Mataram tidak memiliki kekuasaan yang tunggal dan terpecah belah. Semenjak Giyanti, Mataram tidak memiliki wewenang yang strategis dan cenderung lemah.

Meninggalkan bayang-bayang kejayaan Mataram, lorong lain pun menanti dengan cerita yang lain. Kali ini, koleksi batik dan pakaian adat terpampang nyata dihadapan kami. Kain batik yang sering kami gunakan ternyata memiliki makna yang berbeda. Parang melambangkan senjata yang siap untuk berperang. Kain batik lainnya pun memiliki makna kesucian dan keanggunan yang biasa digunakan dalam adat pernikahan. Selama ini, saya hanya mengenakan saja baju batik tanpa tahu arti dan makna yang terkandung didalam motifnya.


Gusti Nurul Dan Julia Perez 


Salah satu yang paling menarik dalam lorong selanjutnya adalah ruang Gusti Nurul. Gusti Nurul merupakan putri tunggal dari Kanjeng Gusti Pangeran Mangkunegoro VII dengan permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Gusti Nurul muda sangatlah mirip dengan artis Indonesia, Julia Perez. Paras mereka sangatlah mirip dengan struktur dan karakter wajah yang hampir sama. Apakah mungkin Julia Perez adalah keturunan dari salah satu raja-raja Jawa ? Atau ini hanya kebetulan belaka? Hanya Tuhan yang dapat menjawab misteri ini.

Pagelaran Seni Budaya Di Ullen Sentalu


Selain menyajikan koleksi unik budaya Jawa, Ullen Sentalu pun mengelar pertunjukan seni dan budaya. Pada Oktober lalu, International Mask Festival telah sukses digelar di museum ini. Pagelaran ini menyajikan sajian tari-tarian topeng khas Jawa. Bukan hanya tarian, namun Magic Mask dan Masterpiece Mask pun turut memeriahkan acara tersebut.

Bagi yang belum mengunjungi Museum Ullen Sentalu ada baiknya untuk melihat videonya terlebih dahulu.


Terima kasih airport.id dan para sponsor yang telah menyelengarakan Explore Indonesia Jogja 2016.


Informasi Museum Ullen Sentalu

Alamat 
Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat
Sleman, Yogyakarta

Telepon 
+62274 895161 

Website 

Jam Buka
Selasa- Jumat : 08.30 - 16.00 WIB
Sabtu - Minggu : 08.30 - 17.00 WIB
Senin Tutup

Harga Tiket Masuk 
Pengunjung Domestik 
Dewasa : Rp 30.000
Anak (Usia 5-16) : Rp 15.000
Pengunjung Mancanegara
Dewasa : Rp 50.000
Anak (Usia 5-16) : Rp 30.000

Email 
ullensentalu@gmail.com

Social Media 
Facebook : Museum Ullen Sentalu
Twitter : @ullensentalu 

Petunjuk Jalan 
Sekitar dua kilometer setelah Gerbang Kaliurang tiba di pertigaan Patung Udang, silahkan mengambil jalan lurus ke Utara dan 500 meter kemudian akan tiba di pertigaan berikutnya, silahkan mengambil jalan kekanan dan 700 meter kemudian akan tiba di lokasi museum.

Maps