Tempat Wisata Unik Dan Anti Mainstream Di Jakarta

05.48.00


Jakarta itu ibarat jantungnya Indonesia yang berdenyut setiap detiknya. Bahkan sangkin dinamisnya, Jakarta itu banyak sekali tempat-tempat yang memiliki keunikan dan anti mainstream. Kebayang donk kayak apa sih padat dan stresnya warga Jakarta karena setiap hari harus berjibaku dengan kemacetan dan kepadatan transportasi massal seperti KRL dan Busway. 

Coba saya mau tanya, seberapa sering kamu jalan-jalan di area Jakarta dan menemukan tempat yang unik dan jarang di jumpai oleh orang lain? Pasti dengan lamanya akan berpikir dan berakhir dengan jawaban yang sangat mengecewakan.

"Saya ngga tahu tempat yang unik."

Atau jawaban paling mentok adalah ini.

"Paling saya ke mall."

Memang betul sih, mall itu banyak hiburannya, tapi kan bukan hanya mall saja yang bisa bikin kita bahagia. Kadang sesuatu yang sederhana dan tempatnya terpencil serta luput dari jangkuan orang bisa bikin kita menyadari arti dari tempat tersebut.


Candra Naya

Rumah yang disebut Candra Naya tersebut adalah rumah terakhir Mayor China di Batavia. Zaman Hindia Belanda dulu, diangkat seseorang untuk mewakili etnisnya.

Ialah Mayor Khouw Kim An yang lahir di Batavia 5 Juni 1879. Kariernya termasuk cemerlang di pemerintahan Batavia. Pada 1905 diangkat menjadi Leutenant, 1908 dipromosikan menjadi Kapitan, dan 1910 naik pangkat lagi menjadi Mayor.


Rumah ini memang terletak diantara gedung tinggi di kawasan jalan Gajah Mada di Jakarta, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa disinilah sejarah penting pernah terjadi dan menjadi saksi bisu banyak peristiwa pada masa Batavia. 

Gereja Santa Maria de Fatima


Gereja Santa Maria de Fatima adalah sebuah Gereja Katolik di Jakarta. Gedung ini dibangun dengan arsitektur Tionghoa. Setelah adanya tugas pelayanan dan pewartaan dari Vikaris Apostolik Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden SJ, maka didirikanlah gereja, sekolah, dan asrama bagi orang-orang Hoakiau (Cina Perantau). Sebagai awal, dipilihlah Pater Antonius Loew SJ dari Austria sebagai kepala paroki dan Pater Leitenbauer sebagai pengelola sekolah yang pertama. Sekolah itu dinamakan Sekolah Ricci, berasal dari nama imam missionaries Yesuit, Matteo Ricci.

Usaha Pater Leitenbauer, yang dibantu oleh Pater Braunmandl, Pater Loew, dan Pater Tcheng, berjalan dengan lancar, dan mereka juga membuka kursus bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin, yang dikenal dengan sebutan Ricci Evening School, dan asrama yang dikelola oleh Pater Tcheng diberi nama Ricci Youth Center.


Kemudian tahun 1953 dibelilah sebidang tanah seluas 1 hektare, untuk digunakan sebagai kompleks gereja dan sekolah, dari seorang kapitan (lurah keturunan Tionghoa pada Zaman Penjajahan Belanda) bermarga Tjioe, dan pada tahun 1954, tanah dan bangunan itu resmi menjadi milik Gereja. Di atas tanah itu berdiri sebuah bangunan utama dengan 2 bangunan mengapit bangunan utama, yang memiliki 2 buah patung singa yang merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina.

Vihara Dharma Jaya Toasebio


Kelenteng Toasebio adalah salah satu dari klenteng tua yang masih berdiri di Jakarta. Toasebio sendiri adalah gabungan dari dua kata yakni Toase yang berarti pesan dan Bio adalah kelenteng. Kelenteng yang dibangun di tahun 1755 ini menyembah dewa Qing Yuan Zhen Jun (Tjeng Gwan Tjeng Kun).

Gedung Kementrian Pertanian


Menteri Pertanian sebelumnya, telah meresmikan penggunaan gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA). Menteri Pertanian mengatakan bahwa PIA dapat dipandang sebagai salah satu pintu masuk (entry point) bagi masyarakat pertanian maupun masyarakat umum untuk mengenal secara mendalam dunia pertanian, sekaligus dapat menjadi sarana edukasi bagi dunia pendidikan, serta sarana hiburan dan rekreasi bagi masyarakat.

Gedung PIA diharapkan dapat menjadi land-mark bagi kawasan perkantoran Departemen Pertanian dan menjadi pemicu kreatifitas dan daya inovasi insan pertanian. Gedung PIA adalah gedung milik publik, dimana seluruh lapisan masyarakat dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Lapangan Banteng


Lapangan Banteng, dulu bernama Waterlooplein (bahasa Belanda: plein = lapangan) yaitu suatu lapangan yang terletak di Weltevreden, Batavia; tidak jauh dari Gereja Katedral Jakarta. Pada masa itu, Lapangan Banteng dikenal dengan sebutan Lapangan Singa[1] karena di tengahnya terpancang tugu peringatan kemenangan pertempuran di Waterloo, dengan patung singa di atasnya. Pertempuran Waterloo tersebut terjadi tanggal 18 Juni 1815 di dekat kota Waterloo, yaitu sekitar 15 km ke arah selatan dari ibukota Belgia, Brussels. Pertempuran itu merupakan pertempuran terakhir Napoleon melawan pasukan gabungan Inggris-Belanda-Jerman. Pertempuran ini juga dicatat dalam sejarah sebagai penutup dari seratus hari sejak larinya Napoleon dari pengasingannya di pulau Elba.

Kini wajah Lapangan Banteng menjadi sangat berbeda dan sangat cantik dengan tambahan taman dan atraksi lampu warna-warni serta air mancur yang sangat menghibur warga. Kita bisa menyaksikan semua pada saat weekend atau sabtu dan minggu. 


Tempat wisata yang unik dan anti mainstream memang bukan saja memberikan efek hiburan, namun bagi yang tidak menyukai hal tersebut bisa memilih banyak tempat wisata yang dekat dengan Jakarta, tanpa harus keluar duit lebih banyak. 

Nah, kalau pesan tempat-tempat wisata yang paling populer di Jakarta, jangan lupa pesan melalui www.traveloka.com karena disini ada lebih dari 90 tempat wisata terpopuler yang ada di Jakarta. Dan, yang lebih baiknya lagi, saat ini sedang ada diskon besar-besar selama masa promo ya. 

Jangan sampaoi ketinggalan pesan tempat wisata yang terpopuler di Jakarta di traveloka ya.

You Might Also Like

1 komentar

  1. Wah, hanya dua yang udah terjelajah. Selebihnya belum.
    Balik ini, kudu ke sana lagi nih.

    BalasHapus