Serunya Rafting Berlatar Pemandangan Gunung Kinabalu, Sabah

Leave a Comment

Belud, seperti nama binatang yang ada di Indonesia, tapi sebetulnya nama itu juga merupakan salah satu kota di Sabah, Malaysia. Butuh sekitar satu jam lebih dari Kota Kinabalu untuk menjelajah kota ini. Kesan pertama ketika sampai di tengah kotanya adalah kota kecil dengan kesan klasik namun sangat bersih dan nyaman. Belud mengingatkan Jakarta pada tahun 1990-an dengan pasar dan toko-toko klasik, yang membedakan adalah terdapat huruf kanji atau aksara mandarin, etnis Tionghoa. 

Sejauh mata memandang dari dalam Bas Pesiar (Bus Pariwisata), hanya sedikit saja masyarakat yang lalu lalang. Dan setiap pinggir jalan, tidak terlihat tumpukan sampah ataupun pedagang yang menjajakan dagangannya seperti di Indonesia. Itulah perbedaan yang sangat mendasar tentang membuang sampah di manapun.

Duo Desah kembali menghibur kami dengan suara nyanyian ala mereka. Entah kapan Duo Desah ini di resmikan, namun kehadiran Indra dan Teguh mampu menghapus keletihan kami di beberapa hari perjalanan kemanapun. Sampai-sampai Pak Bobby (Sabah Tourism Board) dan Pak Joshua (Air Asia), pun merasa terhibur dengan kelucuannya. Sebetulnya lagu yang dibawakan adalah lagu biasa, hanya saja terdapat sentuhan desahan yang tak dimiliki oleh penyanyi papan atas manapun.

Inilah Pemandangan Kinabalu yang Legendaris
Kami ke Belud bukan menepi atau mencari kedamaian, kami datang untuk bersenang-senang dan melakukan olahraga air yang sangat saya gemari selain berenang tentunya. Namun, rafting jauh menyenangkan dibandingkan dengan hanya sekedar berenang saja, inilah yang dinamakan memacu adrenaline. Rafting bagi saya bukan hal yang baru, saya mulai mengenalnya beberapa tahun silam. Pada outbound kantor lama, saya sering diajak untuk mencoba rafting, dan Alhamdulillah ketagihan, hehehe.

Bagi Indra dan Kak Irene, rafting merupakan hal baru. Wah, untuk pertama kali rafting saja harus jauh-jauh ke Sabah ya. Sebenarnya saya tidak percaya, tapi karena Indra menceritakan dengan sangat meyakinkan, jadi saya mengangguk-angguk saja, tanda percaya. Lain hal dengan Kak Irene, ia tak pernah sekalipun mencoba rafting karena tidak pernah diberi kesempatan. So, inilah rafting pertama mereka berdua. Dan, tak disangka-sangka, inilah Rafting paling berkesan karena sesuatu hal terjadi. Saya harus berhenti dulu untuk menahan gejolak antara rasa jengkel dan tertawa yang beradu dalam diri saya.

Tak terasa bus kami berhenti pada sebuah pinggiran sungai. Setelah pintu dibuka barisan depan dan kedua langsung turun tanpa menunggu aba-aba. Sementara yang lain terlihat melepaskan celana dan kaos serta berganti dengan baju untuk rafting. Saya yang berada di bangku paling belakang harus menunggu beberapa waktu, dan yes akhirnya saya bisa berjalan menuju tempat ganti. Saya terpaksa melepas jeans panjang dan baju yang masih bersih dengan baju dan celana pendek. And, I am ready to rafting in Kelud.

Sebelum rafting, seperti biasa harus dibrief terlebih dahulu apa yang harus dilakukan seperti pakaian pengaman, dayung dan pengaman kepala atau helm. Sebelum itu pula kami dijelaksan instruksi apa saja yang harus dilakukan dalam berbagai situasi. Dan, jangan sampai lupa semuanya karena akan fatal jadinya. Trust me, it is important while you in the river.

Forward adalah kata yang akan sering di dengar karena berarti kita akan harus mengayuhkan dayung ke depan secepat mungkin untuk maju dan melawan arus. Sedangkan sebaliknya, maka mengayuhlah ke belakang dan mengahalau arus.


Saya sebetulnya kurang memperhatikan seluruh penjelasan karena saya sibuk merekam dan mengambil gambar setiap momennya. Entah apa momennya yang penting dapat membuat dokumentasi saya lengkap terutama video. Dan, yang lain saya dengan meyakinkan mengangguk-angguk sebagai tanda bahwa mereka mengerti yang di jelaskan. Saya benar-benar tenang. 

Setelah semua penjelasan yang panjang dan dengan peragaan yang cukup jelas, akhirnya kami akan memulai rafting hari itu. Waktu menunjukan pukul 4 sore lebih, sedangkan saya tidak tahu berapa lama yang dibutuhkan sampai ke finish nantinya. Saya pasarh saja.

"Ayo kita berempat saja yuk."

Indra merangkul saya, mba Evi dan Kak Irene. Dan dengan ini terbentuklah, kwartet rafting untuk beberapa waktu kedepan. Saya dengan senyum puas mengatakan inilah Dream Team. Kami memiliki penyanyi, vlogger, pemilik Go Pro dan Pengayuh dengan tenaga kuat seperti saya, hahaha. Dengan dalih merekam semua aktivitas rafting ini, malah menjadikan boomerang nantinya. 

Dengan alat dayung, kami sudah siap dan naik ke boat. Sebetulnya kami dibantu dengan 3 orang penjaga kami yang berada di belakang Mba Evi dan Kak Irene. Dua orang bule dan satu orang Malaysia. Saya tambah makin lega dengan komposisi ini. Sementara boat lainnya diisi oleh tim Cewek dan Cowok, sementara kami Mix. 

Mulanya bule berteriak semangat dan mengatakan "Forward" yang merupakan tanda kami harus maju ke depan. Dan, inilah pertaruhan antara drama dan lawak dimulai.   


Sungai ini merupakan salah satu tempat tercantik dengan pemandangan Gunung Kinbalu yang anggun disepanjang jalur rafting. Seperti layaknya film Cowboy dengan sungai yang landai dan hutan-hutan seperti pinus dan pohon lain yang menyebar rata hampir disetiap jalur rafting membuat saya menikmatinya.

Mulanya kapal boat berpenumpang 7 orang itu tak mengalami gangguan, namun ketika memasuki arus yang seikit deras, Indra terhempas. Sementara dayung yang kami pakai ada satu yang terlepas. Si Bule berusaha menolong kami dengan ocehan yang tiada henti tanpa saya dan lainnya mengerti. Indra berhasil naik ke boat. Drama babak pertama dimulai. Bule yang tadinya kalem berubah sedikit tempramen. Setiap perintah yang ia tunjukan kepada saya dan 3 orang lainnya di keraskan dengan volume yang tak biasa.

Saya terus terang kaget dengan perubahan volume suaranya. Sementara boat lain terlihat begitu bersemangat dan menikmati setiap kayuhan, tidak demikan dengan kami, bagai daun kecil diatas sungai, kami siap untuk hanyut dan tenggelam. Padahal kayuhan saya sudah benar dan sekuat tenaga, namun tak berdampak apapun juga. What should I do?

Saya dan Indra saling pandang, dan kami tertawa. Dan diarus berikutnya, saya, Indra dan Mba Evi bukannya mengayuh, kami membentuk satu formasi saling berpelukan seperti teletubis di depan. Saya kembali tertawa. Sementara Bule sudah menyerah dan memelankan suaranya. Seperti tidak ada gairah dalam boat yang kami tumpangi.

Entah berapa kilometer lagi kami harus tempuh untuk sampai di finish. Seperti sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk mengayuhkan alat dayung ini. Dan, air semakin deras, arus pun kembali mengombang-ambing boat. Saya sudah pasrah, sementara suara bule sudah memerintahkan apapun yang bisa diperintah.

Boat kami akhirnya terhempas dan terbalik. Bule tetap meracau dengan kata-kata yang kami tidak ketahui lagi. Yang ada dalam pikiran saya adalah meyelamatkan diri sendiri dan boat. Alhamdulillah, boat dan seluruh penumpang tidak mengalami apapun.


Mba Evi sempat berfikir untuk menyelamatkan Indra terlebih dahulu dan membiarkan saja Go Pronya, namun Mba Evi merekam semua kejadian yang melanda kami. Hahaha, kami sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Sebagai hiburan, Indra sempat bermain Drama dengan berperan sebagai Jack, sementara saya harus berperan sebagai Rose dalam Film Titanic.

"I Told you Rose to go to school, Rose. Because you stupid, Rose."

Saya, Mba Evi dan Kak Irene sontak saja tertawa mendengar perkataan Indra yang spontan itu. Tak hanya sampai disini saja, Indra kemudian bernyanyi lagu Contry Road yang sama sekali tidak saya ketahui. Untungnya, si Bule tahu lagu ini dan bernyanyi bersama-sama dengan kami. Jadilah boat kami dipenuhi nyanyian dan bercandaan yang melepaskan ketegangan diantara kami.

Baru setelah kami berhenti di Finish, belakangan kami tahu bahwa cewek bule yang bersama kami di boat bernama Rose juga, hahaha, saya dan Indra sontak saja tertawa.

Iniliah keseruan kami menikmati rafting berlatar Gunung Kinabalu di Kota Belud, Sabah. Sampai jumpa di putalangan selanjutnya.

0 komentar:

Posting Komentar