Weekend Escape : Serunya Body Rafting Di Citumang Green Valley

1 comment

Waktu kecil dahulu saya sering nyebur ke bak mandi dengan dalih ingin mengurasnya padahal saya hanya ingin bermain air. Hampir setiap minggu rutinitas itu saya lakukan, dan hasilnya bukan mendapat dukungan malah menuai cibiran dari Mba Sri, pembantu rumah tangga di keluarga saya. Ternyata hobi saya berenang dalam bak mandi itu tak lantas membuat saya pun bisa berenang dengan sempurna di sungai. Teman-teman saya yang jago berenang asyik bermain air sampai ke tengah sungai yang deras, sementara saya harus menahan diri dan menjaga pakaian mereka. Semenjak saat itu, sungai menjadi momok.

Suatu sore tahun 2010, saya diajak sahabat saya, Ridwan untuk berenang di sebuah kompleks perumahan di Senayan. Saya lupa nama tempatnya, tapi kolam renang ini merupakan fasilitas sebuah perumahan beserta fitness. Ridwan mulanya tidak percaya saya tidak bisa berenang sama sekali. Setelah berada di kolam, barulah dia tertawa karena saya tidak bisa melakukan gerakan apapun karena berada di pinggir kolam dan begerak seadanya. 

  
Ridwan memberitahu saya bahwa sebetulnya belajar berenang sangatlah mudah. Ridwan menunjuk bocah kecil berusia tak lebih dari 5 tahun berenang kesana kemari dengan bantuan pelampung kecil. Saya pun malu dengan keadaan dimana saya tidak bisa berenang. Mulailah saya mencoba gerakan yang diajarkan. Mulanya sangat sulit menaklukan arus air, namun lama kelamaan saya bisa mengerakan kaki dan mengerakan tangan dengan leluasa. 

Gerakan kaki dan tangan saya praktekan terus menerus sampai akhirnya pada saat hari lain, saya pun mencoba gerakan yang sama dan akhirnya saya bisa berenang dengan sempurna meski dalam jarak yang tak begitu jauh. Untuk menguatkan kaki dan tangan agar bisa berenang dengan sempurna, saya pun mendaftar fitnes di sebuah hotel yang lengkap fasilitasnya terutama kolam renang. Sebulan kemudian, resmilah saya bisa berenang dengan sempurna. 


Pagi itu di HAU Citumang, setelah sarapan kami memiliki agenda yang menyenangkan, Body Rafting. Memang Citumang disebut sebagai lembah hijau yang menawan, atau bahasa kecenya "Green Valley". Jika di daerah lain terdapat Green Canyon, maka Citumang pun memiliki Green Valley yang siap menyambut kami. 

Saya dan teman-teman sudah siap dengan perlengkapan pelampung yang sudah dikenakan. Senyum dan wajah sumringah seakan tak pernah surut dari teman-teman yang berasal dari berbagai daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah serta Yogyakarta. Sepertiya tidak ada kelelahan padahal perjalanan panjang telah dilalui dari masing-masing daerah. 

Setelah lengkap, kami berkumpul di pintu masuk HAU Eco Lodge Citumang, tempat kami menginap dengan konsep unik berupa Kontainer. Dan, sepertinya di Indonesia HAU Citumanglah yang menjadi pioneer penginapan dengan konsep seperti ini. Selain kontainer, HAU Citumang juga sangat peduli dengan lingkungan terutama pepohon yang berada disekitar lodge yang dibiarkan tumbuh dan berkembang sebagai mestinya. 



Kami berjalan meninggalkan satu-satunya penginapan kontainer warna-warni di Citumang. Dari sini kami harus berjalan sekitar ratusan kilometer menuju sungai Citumang yang hijau. Sebetulnya dari penginapan kami dapat melihat sungai ini, namun karena sungai tersebut di bendung, maka kami hanya menyaksikan aliran kecil saja. 

Jalanan menuju hulu sungai Citumang cukup bagus karena sudah ditambah bebatuan sehingga tidak akan becek jika terkena hujan. Disamping kanan dan kiri terdapat pepohonan dan kebun warga sekitar sehingga tampak hijau dan tidak panas. 



Setelah ratusan meter sampailah pada pintu masuk ke Green Valley Citumang. Untuk masuk ke tempat ini dikenakan biaya sekitar Rp 19.000 pada saat weekdays dan Rp 24.000 pada saat weekend. Oh iya, selain warga lokal yang sering body rafting, ternyata banyak juga bule-bule yang mengunjungi tempat ini pada hari-hari tertentu seperti Jumat dan weekend. Bahkan setiap bulannya, akan berganti-ganti bule dari negara seperti Amerika Latin, Amerika Serikat, Eropa dan Australia. So, pilihlah hari Jumat jika ingin cuci mata dan mendapatkan jodoh bule, hahaha.

Suara aliran air sudah terdengar dari pintu masuk. Itu tandanya hulu sungai ini sudah tidak jauh. Dan, artinya kami akan bersenang-senang masuk dalam sungai dengan air yang sangat jernih. Namun, lagi-lagi kami harus menahan terlebih dahulu karena antrian yang lumayan panjang. Sambil menunggu, kami mencoba ikan yang dapat memijat kaki. Sebetulnya bukan memijat melainkan ikan pemakan sel kulit mati di kaki. Walhasil, kaki kami seperti distrum oleh ikan yang makan kulit mati. Lucu juga karena kami harus menahan antaraa geli dan sakit karena rasa tersetrum ikan tersebut. Hahaha. 



Penantian berakhir. It's time to rock. Lihat saja air hijau nan jernih itu sudah memanggil-manggil untuk direnangi. Tentu saja saya senang mencoba body rafting di sungai yang unik ini. Selama ini saya merasakan body rafting di sekitar Jawa Tengah dengan air yang kecoklatan, namun disini airnya sangat jernih dan hijau. Mungkin saja karena dikelilingi oleh pepohonan hijau sehingga sungainya pun memantulkan cahaya hijau. 

Kami tak langsung dibawa menuju sungai yang dalam, melainkan gua dengan bebatuan. Ternyata inilah yang dimaksud dengan tantangan terjun dari ketinggian 10 meter lebih dari mulut gua. Mas Nuz dan Khaerullah yang memberanikan diri naik ke atas dari akar-akar dan mencapai atas untuk kemudian terjun. Kang Geri sebetulnya ingin mencoba namun urung dan harus turun dari ketinggian 10 meter menjadi 4 meter saja. Kalau saya pastinya akan sulit naik dari akar-akar pohon untuk mencapai ke atas. Akhirnya saya hanya mencoba dari ketinggian tak lebih dari satu meter. 



Dan setelah memasuki sungai yang sebenarnya, kami ditantang untuk menjadi tarzan. Karena berat badan saya yang mencapai 100 kg, saya hanya pasrah dan mencoba sebisa saya. Belum menganyun sampai ketengah sungai, tali itu sudah tidak mampu menahan badan saya dan terjatuh ke sungai. Byuurr. 

Setelah itu kami bermain kereta-kereta dengan cara menyambungkan kaki dengan tangan orang sebelumnya. Cukup sulit awalnya, namun berkat bantuan para pemandu akhirnya kami dapat membentuk kereta-kereta dengan bagus. 



Setelah kereta, kami membentuk formasi lainnya yaitu seperti lingkaran dan berombak karena gerakan kaki kami. Setelah itu kami naik kembali ke bendungan untuk kemudian menyusuri sungaai kecil dan berakhir di parkiran dekat dengan pintu masuk HAU Citumang. 

Pengalaman body rafting kali ini memang sangat mengasyikan. Sudah saatnya untuk kembali ke rutinitas di depan laptop dan menghadapi polusi. Suatu saat, saya akan kembali lagi ke Citumang untuk menikmati alam yang masih tersembunyi.


Info mengenai tarif body rafting ini salah satunya http://www.bodyrafting-guhabau.com/2017/09/harga-paket-body-rafting-citumang-green.html .

Dan untuk informasi mengenai HAU Citumang bisa mengakses website http://haucitumang.hotel.mypangandaran.com/ atau dapat reservasi melalui nomor 0265-639380 / 081316987988 . 

1 komentar:

  1. Kalau yang namanya asyik2an di air bareng temen2 itu kadang air nya terlupakan, pokoknya senang aja sama teman xD

    Agak ngeri sama body rafting nya, itu diapit dua tebing, trus aliran airnya sempit. But it looks amazing and fun xD

    BalasHapus